Situasi geopolitik di kawasan Teluk kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengakhiri kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Keputusan tersebut segera diikuti dengan serangkaian serangan udara yang menyasar beberapa titik strategis di sepanjang pesisir selatan Iran, termasuk Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar pada Rabu (8/7).
Laporan dari kantor berita IRNA menyebutkan bahwa guncangan akibat ledakan terdengar jelas di sejumlah lokasi, yang bahkan sempat memicu pemadaman listrik di wilayah terdampak. Serangan ini dilakukan sebagai respons atas kekhawatiran Washington terhadap keamanan jalur pelayaran vital minyak dan gas di Selat Hormuz.
Menanggapi eskalasi tersebut, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Iran, memberikan pernyataan tegas. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya pendaratan pasukan asing di wilayah pantai Iran akan berujung pada bencana bagi pihak penyerang. "Respons kami jelas: jika kalian punya nyali, silakan datang," ujar Sayyari melalui siaran televisi pemerintah.
Di sisi lain, retorika keras juga datang dari pihak Gedung Putih. Donald Trump melontarkan kecaman tajam terhadap kepemimpinan Iran saat berada di sela-sela KTT NATO. Trump menuduh Teheran tidak berkomitmen pada janji mengenai larangan pengembangan senjata nuklir dan menyebut kepemimpinan Iran sebagai pihak yang tidak dapat lagi diajak bernegosiasi.
Ketegangan ini kini meluas dengan adanya peringatan dari Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya kepada negara-negara tetangga. Iran menegaskan bahwa setiap dukungan yang diberikan kepada militer AS dalam operasi ini akan dipandang sebagai tindakan permusuhan, sehingga negara-negara tersebut akan dianggap sebagai target sah oleh Angkatan Bersenjata Iran.