Kementerian Pariwisata kini mulai menggeser fokus pengembangan sektor pariwisata nasional ke arah wisata olahraga atau sport tourism. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap pergeseran preferensi pelancong, khususnya dari generasi milenial dan Gen Z, yang kini lebih memprioritaskan pengalaman personal, kebugaran, serta keberlanjutan daripada sekadar hiburan konvensional.
Berdasarkan data UN Tourism, sektor wisata olahraga diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 17,5 persen per tahun hingga 2030. Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, mengungkapkan bahwa tren ini merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk mengoptimalkan kekayaan alam dan infrastruktur olahraga yang ada guna menarik kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, pemerintah telah menjalin sinergi lintas sektoral dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kerja sama ini difokuskan pada pemetaan potensi ajang olahraga, standardisasi penyelenggaraan, serta peningkatan kualitas venue agar lebih ramah bagi wisatawan. Selain itu, berbagai ajang olahraga unggulan terus diintegrasikan ke dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) guna memperkuat daya tarik destinasi secara terpadu.
Meski memiliki prospek menjanjikan, data kunjungan wisatawan mancanegara pada 2024 menunjukkan bahwa kontribusi sport tourism masih berada di angka 9,74 persen, tertinggal dari wisata petualangan dan kebugaran. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI) dan Augmented Reality (AR) dioptimalkan untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih personal dan efisien bagi para wisatawan.
Pengembangan sport tourism diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga menarik segmen wisatawan berkualitas. Fokusnya adalah pada pelancong dengan masa tinggal lebih lama dan daya beli lebih tinggi, yang secara langsung akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi lokal serta kelestarian destinasi wisata di Indonesia.