TANGERANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menginisiasi terobosan baru dalam metode pembelajaran Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM) dengan mengintegrasikan kearifan lokal. Langkah ini direalisasikan melalui Bimbingan Teknis Calon Fasilitator Nasional Pelatihan STEM yang menekankan prinsip 5M, yakni Murah, Mudah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.
Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Moch. Abduh, menekankan pentingnya aksesibilitas pendidikan yang merata bagi seluruh murid tanpa terkecuali. Menurutnya, pembelajaran STEM tidak harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium yang mahal, melainkan dapat memanfaatkan fenomena sehari-hari yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti konsep sains di balik fermentasi tempe hingga teknik arsitektur tradisional pembuatan Kapal Pinisi.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto, menjelaskan bahwa pendekatan baru ini bertujuan melatih kepekaan murid dalam memecahkan persoalan nyata. Pembelajaran STEM tidak lagi diajarkan secara parsial atau terpisah per mata pelajaran, melainkan dirancang secara integratif. Kegiatan bimbingan teknis yang berlangsung di Tangerang ini melibatkan 155 pendidik dari 34 provinsi di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, menyatakan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada penguasaan teknologi dan pembelajaran STEM. Ia berharap paradigma baru ini dapat mematahkan anggapan bahwa STEM adalah materi yang rumit, sekaligus mendorong kolaborasi aktif lintas mata pelajaran di sekolah.
Untuk memudahkan pemahaman peserta, pelatihan dikemas menggunakan metode interaktif berbasis gamifikasi bertajuk ‘Petualangan Garuda Cendekia’. Sistem ini menggabungkan pembelajaran mandiri, kelas daring terbimbing, dan pertemuan tatap muka. Setelah bimbingan teknis ini selesai, para peserta akan menjalani praktik kerja lapangan sebelum melatih guru-guru di daerah masing-masing menjelang peluncuran nasional pada akhir Agustus 2026.
Inovasi ini disambut baik oleh para guru di daerah. Putri Desriana, guru SMAN 3 Banda Aceh, mengapresiasi cara implementasi STEM yang kini bisa diterapkan secara fleksibel baik dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Di sisi lain, Mefi Boset dari SMA 3 Kota Sorong menyoroti tantangan guru dalam menghadirkan kelas kontekstual agar murid tidak sekadar menghafal teori, tetapi mampu melahirkan solusi nyata bagi lingkungan mereka.