Dinas Kesehatan Provinsi Riau melaporkan total kumulatif kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di wilayahnya telah mencapai 11.523 orang hingga triwulan pertama tahun 2026. Data ini merangkum seluruh temuan sejak pertama kali penyakit tersebut terdeteksi di Bumi Lancang Kuning pada 1997 silam.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, mengungkapkan bahwa lonjakan angka statistik ini tidak semata-mata mencerminkan pertumbuhan kasus baru, melainkan keberhasilan program deteksi dini yang semakin masif. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, rata-rata seribu kasus baru berhasil diidentifikasi setiap tahunnya berkat perluasan akses layanan skrining di puskesmas serta rumah sakit.
"Peningkatan tren ini selaras dengan langkah kami yang memperluas jangkauan pemeriksaan. Semakin dini status kesehatan diketahui, semakin cepat pasien mendapatkan terapi medis yang tepat," ujar Zulkifli. Menurutnya, intervensi pengobatan melalui terapi antiretroviral (ARV) menjadi kunci vital untuk menjaga kualitas hidup pasien sekaligus meminimalisir risiko transmisi ke masyarakat luas.
Berdasarkan data rinci, Kota Pekanbaru menempati posisi teratas dengan 6.718 kasus atau mencakup 58,3 persen dari total keseluruhan di Riau. Tingginya angka di ibu kota provinsi ini dinilai sebagai konsekuensi dari kepadatan penduduk yang tinggi, mobilitas warga yang intens, serta ketersediaan sarana kesehatan yang jauh lebih memadai dibandingkan daerah lainnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Riau terus memperkuat edukasi publik dan pendampingan bagi penyintas. Pihaknya mengimbau masyarakat, khususnya kelompok dengan faktor risiko tinggi, untuk proaktif mendatangi fasilitas kesehatan terdekat guna melakukan pemeriksaan rutin tanpa perlu merasa cemas akan stigma sosial.