Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia secara resmi mendesak pemerintah untuk segera memberikan keputusan terkait permohonan perluasan tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis manufaktur. Langkah ini dinilai krusial sebagai respons atas tingginya antusiasme investor global yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia meskipun kondisi ekonomi dunia sedang menghadapi tantangan berat.

Tiga kawasan yang tengah menantikan restu ekspansi tersebut adalah KEK Kendal, KEK Galang Batang, dan KEK Gresik. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menegaskan bahwa momentum ketertarikan investor ini harus dikelola dengan baik melalui kepastian regulasi agar target investasi nasional tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp2.175 triliun dapat tercapai.

"Kami berharap pemerintah memberikan respons yang cepat dan cermat. Antusiasme investor di tengah tekanan ekonomi global adalah sinyal positif yang menunjukkan bahwa daya tarik Indonesia masih sangat kompetitif di mata dunia," ujar Sarman dalam keterangannya pada Minggu (5/7/2026).

Selain mendongkrak realisasi investasi, perluasan kawasan ini diyakini akan memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Aktivitas industri yang semakin luas diproyeksikan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja, sekaligus menggerakkan roda usaha lokal, mulai dari sektor jasa katering, rumah makan, hingga penyediaan hunian bagi para pekerja.

Data menunjukkan urgensi dari usulan tersebut, di mana KEK Kendal saat ini telah mencatatkan tingkat utilisasi lahan sebesar 100% dengan menampung 140 industri. Sementara itu, KEK Galang Batang yang berfokus pada hilirisasi bauksit mengajukan tambahan lahan seluas 2.700 hektare untuk mengakomodasi kebutuhan pengembangan smelter dan produk hilirisasi alumina. Kadin berharap kepastian hukum terkait perluasan ini dapat segera dirilis untuk menjaga kepercayaan investor agar segera merealisasikan komitmen modal mereka di Tanah Air.