Kehadiran jerawat pada wajah sering kali memicu keinginan untuk langsung memencet atau menyentuhnya. Namun, kebiasaan ini sangat tidak disarankan oleh dunia medis karena berisiko memperparah peradangan pada kulit wajah.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika dari RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr. Osdatilla Esa Putri, Sp. DVE, menjelaskan bahwa langkah pertama yang paling krusial saat jerawat muncul adalah menahan diri untuk tidak memanipulasi fisik jerawat tersebut. Jika jerawat yang muncul hanya satu atau dua titik, penggunaan produk perawatan kulit khusus jerawat yang dijual bebas masih diperbolehkan.

Terkait mitos gorengan sebagai penyebab utama jerawat, dr. Osdatilla meluruskan bahwa makanan berminyak sebenarnya bukan pemicu utama, melainkan hanya faktor pendukung. Ia menyarankan masyarakat untuk melakukan metode jurnaling atau mencatat pola makan harian guna melihat korelasi nyata antara jenis makanan tertentu dengan munculnya jerawat, alih-alih langsung memotong asupan makanan secara ekstrem tanpa diagnosis tepat.

Secara klinis, jerawat atau acne vulgaris terbentuk akibat penyumbatan sel kulit mati dan produksi minyak berlebih pada unit pilosebasea. Sebagai langkah preventif harian, dr. Osdatilla menekankan pentingnya mencuci wajah minimal dua kali sehari menggunakan sabun pembersih yang sesuai serta rutin mengaplikasikan tabir surya guna melindungi kesehatan kulit.

Penanganan mandiri dengan produk bebas hanya efektif untuk kasus jerawat ringan. Apabila jerawat berkembang menjadi kategori sedang hingga berat, seperti jerawat batu, bernanah, atau menyebar ke area dada dan punggung, intervensi medis dari dokter spesialis mutlak diperlukan untuk menghindari kerusakan kulit permanen.