Indeks Daya Saing Digital Daerah East Ventures (EV-DCI) 2026 menunjukkan paradoks dalam perkembangan teknologi nasional. Di satu sisi, pemerataan akses teknologi di tanah air dilaporkan terus membaik, namun di sisi lain, kesiapan sumber daya manusia (SDM) digital di Indonesia justru mengalami penurunan kualitas.
Berdasarkan laporan kolaboratif East Ventures bersama Katadata Insight Center yang dirilis pada pertengahan Juli 2026, sebanyak 37 dari 38 provinsi di Indonesia mencatatkan peningkatan skor daya saing digital. Kemajuan ini tercermin dari naiknya median skor nasional dari 38,8 pada tahun lalu menjadi 42,2 pada tahun 2026, yang didorong oleh perbaikan pada 47 dari total 50 indikator penilaian.
Sayangnya, pilar SDM menjadi satu-satunya komponen yang mengalami kemunduran dengan penurunan sebesar 2,5 poin. Penurunan ini diukur melalui berbagai indikator krusial, seperti jumlah mahasiswa, tenaga pengajar, ketersediaan program studi digital di perguruan tinggi, serta indeks literasi digital masyarakat secara keseluruhan. Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan antara masifnya pembangunan infrastruktur fisik dan kesiapan talenta lokal yang mampu mengoptimalkannya.
Selain masalah kompetensi SDM, ketimpangan digital antardaerah juga masih menjadi tantangan besar. Riset ini mencatat adanya kesenjangan skor yang sangat lebar, mencapai hampir 60 poin, antara wilayah dengan tingkat digitalisasi paling maju dan daerah yang masih tertinggal. Ketimpangan ini mengindikasikan bahwa daerah-daerah maju terus melaju cepat, sementara wilayah pelosok masih lambat dalam beradaptasi.