Saham Bank of America Corp (BofA) mengalami apresiasi pada perdagangan Wall Street setelah institusi finansial raksasa asal Amerika Serikat tersebut merilis laporan keuangan kuartal kedua tahun 2026. Laporan keuangan teranyar menunjukkan kinerja keuangan korporasi yang solid dan berhasil melampaui proyeksi konsensus para analis global.

Lonjakan kinerja keuangan bank terbesar kedua di Negeri Paman Sam ini utamanya didorong oleh performa impresif dari lini bisnis perbankan investasi (investment banking) serta aktivitas perdagangan pasar modal. Berkat sentimen positif tersebut, saham perseroan langsung terkerek sekitar 1,6 persen pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek New York.

Dari sisi profitabilitas, Bank of America sukses membukukan laba per saham (EPS) yang disesuaikan sebesar USD 1,21, melampaui estimasi awal pasar yang berada di angka USD 1,12. Selain itu, total pendapatan perseroan tercatat mencapai USD 31,6 miliar, tumbuh 15 persen secara tahunan dibandingkan dengan perolehan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 27,4 miliar.

Pendapatan bunga bersih (NII) korporasi juga terkerek naik 9 persen menjadi USD 16 miliar. Manajemen BofA mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini disokong oleh kenaikan volume penyaluran kredit dan simpanan nasabah, serta peningkatan yield dari penyesuaian harga aset bunga tetap. Ekspansi ini sekaligus meredam tekanan dari tren penurunan suku bunga global.

Sektor perbankan investasi menjadi bintang utama dengan membukukan lonjakan pendapatan hingga 50 persen menjadi USD 2,1 miliar. CEO Bank of America, Brian Moynihan, mengapresiasi kinerja timnya yang berhasil mencatatkan salah satu periode kuartalan terbaik dengan pertumbuhan laba bersih dua digit di setiap segmen bisnis.

Indikator kekuatan neraca keuangan lainnya juga menunjukkan kinerja yang stabil. Rata-rata saldo simpanan meningkat menjadi USD 2,02 triliun, sementara penyaluran pinjaman tumbuh 8 persen menjadi USD 1,22 triliun. Di sisi lain, alokasi penyisihan kerugian kredit berhasil ditekan menjadi USD 1,4 miliar. Meskipun beban operasional nonbunga naik 8 persen karena investasi di bidang teknologi dan SDM, rasio efisiensi perusahaan membaik ke level 59 persen.

Para analis pasar menilai hasil kinerja keuangan ini sangat positif, khususnya didukung oleh performa divisi perdagangan yang tangguh. Kendati demikian, perhatian pelaku pasar kini mulai beralih pada proyeksi margin bunga bersih (NIM) serta arah kebijakan manajemen dalam menghadapi dinamika suku bunga di sisa tahun ini.