Teknologi pesawat nirawak kini menembus batas baru di atap dunia. DJI, produsen drone terkemuka asal Tiongkok, baru saja menyelesaikan serangkaian misi krusial di Gunung Everest (Qomolangma) yang dirancang untuk mentransformasi operasional pendakian gunung, mulai dari pengiriman logistik hingga riset iklim yang kompleks.

Dalam uji coba tersebut, DJI menerjunkan model DJI FlyCart 100 untuk mengangkut kebutuhan ekspedisi di Lereng Selatan, Nepal. Kehadiran drone ini memberikan dampak signifikan; sebanyak 10.073 kilogram perlengkapan dan limbah berhasil dipindahkan hanya dalam hitungan menit. Angka ini menjadi solusi nyata untuk menggantikan metode manual para Sherpa yang sebelumnya harus melintasi Khumbu Icefall—medan yang dikenal sangat berbahaya—selama berjam-jam.

Selain logistik, DJI juga memanfaatkan unit Matrice 4E untuk pemetaan gletser beresolusi tinggi di ketinggian 6.450 meter. Dengan teknologi sensor canggih, perangkat ini mampu memetakan area seluas tiga kilometer persegi dalam waktu singkat. Data yang dihasilkan tidak hanya mendukung navigasi rute yang lebih aman bagi para pendaki, tetapi juga menyediakan informasi krusial untuk misi pencarian dan penyelamatan di medan bersalju.

Di sisi ilmiah, DJI mencatatkan sejarah melalui penggunaan drone eVTOL pertama mereka, DJI EV50. Berkolaborasi dengan Peking University, drone ini berhasil mencapai ketinggian 8.861 meter untuk mengukur polusi atmosfer di troposfer. Misi ini menjadi bukti pertama penggunaan drone untuk pengamatan kimia atmosfer di ketinggian ekstrem yang sangat sulit dijangkau oleh metode konvensional.

Christina Zhang, Juru Bicara DJI, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung aspek keselamatan dan konservasi alam. Dengan target keberlanjutan seperti 'Zero Waste Initiative 2027', teknologi drone diharapkan mampu mengubah lanskap pendakian Everest menjadi lebih bersih, aman, dan efisien bagi komunitas pendaki maupun para peneliti global.