Tim Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) meluncurkan inovasi teknologi ramah lingkungan berupa kombinasi atraktan alami dan perangkap khusus untuk menanggulangi hama lalat buah. Uji coba dan pemasangan perdana teknologi ini dilakukan di kawasan perkebunan jeruk Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Bangli, sebagai langkah nyata membantu petani mengatasi kerusakan komoditas hortikultura.
Hama lalat buah selama ini menjadi momok menakutkan bagi petani karena mampu merusak hampir seluruh jenis buah dan menjadi salah satu hambatan utama ekspor buah lokal. Metode konvensional yang mengandalkan insektisida kimia sintetis dinilai tidak lagi efektif. Selain hanya memindahkan hama ke area lain, penggunaan bahan kimia secara terus-menerus berdampak buruk pada ekosistem serta membutuhkan biaya produksi yang sangat tinggi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc., menciptakan formulasi pemikat bernama “Definol” dan wadah perangkap bernama “Jebags”. Definol memanfaatkan ekstraksi minyak cengkeh dan minyak pala yang mampu menarik lalat buah dari radius hingga 2,5 kilometer. Uniknya, formula alami ini tidak sekadar memikat, namun juga melumpuhkan lalat buah seketika hingga jatuh ke dalam air perangkap dan mati.
Dari sisi ekonomis, inovasi yang kini tengah dalam proses pendaftaran paten ini jauh lebih hemat. Satu hektar lahan pertanian hanya memerlukan sekitar 20 unit perangkap Jebags dan 2 botol Definol dengan estimasi biaya Rp500 ribu. Angka ini jauh lebih murah dibandingkan biaya penyemprotan insektisida kimia yang rata-rata mencapai Rp3 juta per hektar. Selain itu, alat ini mampu menjaring hingga 1.000 ekor lalat buah dalam sepekan pada wilayah berpopulasi tinggi.
Rektor Universitas Udayana menegaskan bahwa riset ini didanai melalui skema hibah Riset Strategis Institusi (RSI). Program ini dirancang agar inovasi yang lahir dari laboratorium kampus tidak hanya berakhir sebagai laporan akademis atau publikasi jurnal, melainkan menjadi solusi aplikatif yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat tani di Bali.
Pemerintah Provinsi Bali melalui Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dr. I Wayan Sunada, menyambut baik terobosan ini karena sejalan dengan program ketahanan pangan ramah lingkungan. Pihak dinas berharap kolaborasi dengan Universitas Udayana terus berlanjut, termasuk untuk mencari solusi penanganan hama lalat rumahan yang saat ini dikeluhkan oleh masyarakat di Desa Songan, Kintamani.
Kepala Desa (Perbekel) Belancan, I Ketut Mendra, menyampaikan apresiasi atas bantuan teknologi ini yang dinilai sangat membantu penyelamatan panen jeruk terutama saat musim kemarau. Harapan serupa disampaikan Dekan Fakultas Pertanian Unud, I Putu Sudiarta, Ph.D., yang mendorong agar implementasi teknologi ini didukung penuh oleh pemerintah daerah secara masif di seluruh Bali guna menekan populasi hama secara terintegrasi.