Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sukses mengembangkan inovasi minuman fungsional terbaru berupa kombucha berbasis jamur medicinal Ganoderma lucidum dan madu. Langkah ini merupakan bagian dari riset pangan fungsional berbasis sumber daya hayati lokal yang dipaparkan dalam ajang Capacity Building dan Expo Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) 2026.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Rizki Rabeca Elfirta, mengungkapkan bahwa formulasi baru ini mengganti bahan baku tradisional. Rebusan jamur Ganoderma lucidum digunakan untuk menggantikan seduhan teh, sementara madu dipilih sebagai pengganti gula pasir untuk menjadi sumber karbon alami selama proses fermentasi.
Pemanfaatan Ganoderma lucidum, yang dikenal sebagai "King of Mushroom", didasari oleh kandungan bioaktif dan polisakarida yang melimpah di dalamnya. Karena memiliki tekstur yang sangat keras dan sulit dikonsumsi langsung, metode fermentasi kombucha menjadi solusi praktis agar khasiat jamur ini dapat diserap tubuh dengan lebih mudah.
Penggunaan madu juga mempercepat proses fermentasi karena kandungan glukosa dan fruktosanya lebih mudah dicerna oleh mikroorganisme SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) dibandingkan sukrosa pada gula pasir. Berdasarkan uji laboratorium, waktu fermentasi optimal untuk menghasilkan kombucha berkualitas ini dicapai pada hari kedelapan.
Produk fermentasi ini menghasilkan asam asetat yang baik untuk pencernaan, asam glukonat untuk detoksifikasi, serta polisakarida sebagai imunomodulator tubuh. Meskipun kadar keasamannya dinyatakan aman, konsumen yang memiliki sensitivitas lambung disarankan untuk meminum kombucha ini setelah makan.