Pasar keuangan global dan domestik kembali menunjukkan dinamika menarik setelah harga emas dunia melonjak ke level US$4.650 per troy ounce pada Senin pagi (24/8/2026). Di saat yang sama, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun merangkak naik tipis menjadi 6,96 persen, sementara nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.682 per dolar AS. Pergerakan ini menuntut para investor lokal untuk menyusun ulang strategi penempatan dana mereka secara bijak.

Kenaikan harga emas dipicu oleh kombinasi melemahnya dolar AS, kekhawatiran terhadap risiko fiskal di Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang mengancam jalur logistik global. Meskipun tren emas masih menunjukkan momentum penguatan yang kuat, posisinya kini sedang menguji level batas atas (resistance) baru. Oleh karena itu, bagi investor jangka panjang, metode investasi berkala atau dollar cost averaging (DCA) dinilai lebih aman guna meminimalkan risiko fluktuasi harga jangka pendek.

Di pasar obligasi domestik, kenaikan yield SBN harian dari 6,93 persen menjadi 6,96 persen berpotensi memicu koreksi jangka pendek pada Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap, khususnya yang berdurasi panjang. Kendati demikian, tren bulanan pasar obligasi sebenarnya masih positif karena yield SBN secara keseluruhan telah turun sekitar 41 basis poin dalam sebulan terakhir. Momen koreksi harga ini justru dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian reksadana pendapatan tetap secara bertahap.

Sebagai alternatif investasi dengan risiko rendah dan jaminan negara, Sukuk Ritel seri SR025 yang sedang ditawarkan hingga 16 September 2026 menjadi pilihan menarik. Surat berharga syariah ini menawarkan kupon tetap bulanan tertinggi sejak tahun 2020, yakni 6,80 persen untuk tenor 3 tahun (SR025T3) dan 6,90 persen untuk tenor 5 tahun (SR025T5). Pemilihan tenor ini sebaiknya diselaraskan dengan rencana kebutuhan likuiditas jangka panjang masing-masing investor.

Sementara itu, untuk mengamankan likuiditas jangka pendek di tengah volatilitas pasar, reksadana pasar uang tetap menjadi instrumen penampung dana yang sangat relevan. Langkah antisipasi ini penting mengingat pelaku pasar global tengah menunggu rilis data inflasi PCE Amerika Serikat serta pelaksanaan Simposium Jackson Hole pekan ini, yang diperkirakan akan memberikan arah baru bagi kebijakan moneter global.