Pasar aset kripto global menghadapi tekanan signifikan pada paruh kedua Juli 2026, dengan Bitcoin mencatatkan tren pelemahan harga di kisaran US$62.810. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia.

Laporan dari Bloomberg menunjukkan bahwa ketidakpastian di kawasan Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran baru mengenai lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu kembali laju inflasi global, yang kemudian mendorong investor untuk menahan diri dari aset berisiko tinggi seperti Bitcoin, Ethereum, hingga XRP.

Richard Galvin, CEO dari perusahaan investasi kripto DACM, menjelaskan bahwa sentimen negatif di pasar saham Amerika Serikat yang sejalan dengan eskalasi militer tersebut menjadi katalis utama koreksi harga. Harapan akan adanya gencatan senjata yang sempat meredam kekhawatiran pasar kini memudar, digantikan oleh kecemasan akan potensi kenaikan suku bunga lanjutan.

Para pelaku pasar kini tengah memantau ketat perkembangan situasi di Timur Tengah. Ketidakstabilan harga komoditas energi akibat konflik ini menjadi faktor penentu utama yang akan mempengaruhi arah pergerakan pasar aset digital dalam jangka pendek, seiring dengan kekhawatiran investor akan kebijakan moneter yang lebih restriktif untuk meredam dampak inflasi.