Pesatnya pertumbuhan transaksi digital di Indonesia tidak hanya mengubah pola belanja masyarakat, tetapi juga memicu lonjakan kebutuhan jasa pengiriman. Fenomena ini membuka gerbang wirausaha baru, khususnya melalui skema kemitraan agen logistik yang kini semakin diminati oleh kalangan muda hingga pelaku usaha lintas generasi.

Di Pontianak, Kalimantan Barat, potensi bisnis ini telah dibuktikan oleh Yoel Abraham. Ia merintis keagenan Lion Parcel sejak masih duduk di bangku kuliah, memanfaatkan peluang pengiriman kuliner khas lokal seperti kue lapis, bingke, lempok durian, dan hekeng yang menuntut pengiriman cepat berbasis armada udara agar kualitas produk tetap terjaga hingga ke tangan konsumen.

Kendati harus membagi waktu dengan jadwal perkuliahan dan mempelajari seluk-beluk logistik dari nol, pendampingan intensif dari pihak penyedia jasa membantu Yoel melewati masa-masa awal usaha. Setelah menyandang gelar sarjana, ia memaksimalkan promosi lewat media sosial hingga mampu mencetak omzet bulanan mencapai puluhan juta rupiah.

Kesuksesan serupa juga dirasakan oleh Suwandy, seorang pelaku usaha lokal lainnya yang beralih menjadi mitra logistik demi memulihkan kondisi finansial pascapandemi. Kemudahan pendaftaran dan luasnya jaringan distribusi nasional membuatnya mampu menggaet pelanggan setia, dengan volume pengiriman kini mencapai ratusan paket setiap harinya.

Sementara itu, Chief Retail Officer Lion Parcel, Febri Andika, menjelaskan bahwa program kemitraan dirancang inklusif agar dapat diakses oleh semua kalangan dengan modal awal mulai dari Rp10 juta. Dukungan pelatihan berkelanjutan disiapkan untuk membantu para mitra baru agar mampu mengelola bisnis secara mandiri dan tumbuh bersama ekosistem logistik nasional yang terus berkembang.