Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (Kosmak) secara resmi memaparkan temuan mendalam mengenai indikasi praktik pencucian uang yang diduga melibatkan Febrie Adriansyah. Dalam laporannya, Kosmak menyoroti keterlibatan empat individu kunci yang bertindak sebagai 'gatekeeper' atau perantara untuk mengelola aset-aset yang tersebar di berbagai sektor bisnis, mulai dari pertambangan batubara hingga industri kuliner.
Hasil investigasi Kosmak mengungkap peran strategis Don Ritto, Nurman Herin, Jeffri Ardiatma, dan Rangga Cipta yang secara konsisten muncul dalam akta pendirian serta struktur manajemen belasan perusahaan. Menariknya, dua di antaranya, Don Ritto dan Nurman Herin, diketahui merupakan rekan satu almamater Febrie di Universitas Jambi. Dugaan ini semakin menguat dengan ditemukannya keterlibatan langsung anggota keluarga Febrie, yakni kedua putranya, Kheysan Farrandie dan Aga Adrian Haitara, dalam struktur kepemilikan PT Hutama Indo Tara.
Praktik penyamaran aset ini diduga melibatkan perputaran dana bernilai fantastis. Sebagai contoh, PT Blok Bulungan Bara Utama yang bergerak di sektor perdagangan batubara tercatat memiliki peredaran usaha mencapai Rp122 miliar, namun aliran dana di dalamnya diduga menyamarkan dana miliaran rupiah sebagai transaksi pinjaman kepada orang kepercayaan tersebut. Temuan ini memicu kecurigaan serius mengenai legalitas sumber kekayaan yang digunakan dalam akuisisi aset-aset jumbo.
Salah satu poin paling krusial adalah temuan terkait akuisisi PT Parwita Permata Mulia yang diperkirakan bernilai Rp1,5 triliun. Kosmak mencatat adanya anomali mencolok antara nilai akuisisi yang fantastis tersebut dengan profil kekayaan pribadi para pengelolanya yang tercatat dalam SPT hanya bernilai miliaran rupiah. Ketimpangan drastis ini menjadi dasar dugaan kuat bahwa perusahaan-perusahaan tersebut hanyalah kendaraan untuk mencuci uang hasil tindak pidana korupsi yang selama ini tersembunyi di balik jabatan Febrie sebagai Jampidsus.