SEMARANG – Akselerasi transformasi sektor kesehatan menuju Indonesia Emas 2045 terus difokuskan pada pemerataan fasilitas medis di berbagai daerah serta optimalisasi peran tenaga keperawatan. Upaya ini memerlukan sinergi kuat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan praktisi kesehatan guna menghadirkan pelayanan publik yang bermutu.
Isu strategis tersebut menjadi pembahasan utama dalam forum nasional NURSTRAT 2026 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) pada Senin (10/8/2026). Pertemuan ini mempertemukan perwakilan DPR RI, Dinas Kesehatan, akademisi, serta ratusan mahasiswa keperawatan dari berbagai wilayah.
Anggota Panitia Kerja (Panja) UU Kesehatan DPR RI, Dr. Ns. Edy Wuryanto, S.Kep., M.Kep., menegaskan bahwa komitmen pemerintah harus berdampak langsung bagi masyarakat di tingkat daerah melalui penyediaan alat kesehatan canggih. Sebagai contoh, kehadiran fasilitas cath lab (kateterisasi jantung) di RSUD Rembang kini memudahkan penanganan pasien kritis tanpa harus dirujuk jauh ke Semarang.
Selain infrastruktur fisik, efisiensi birokrasi medis juga diakselerasi melalui digitalisasi sistem rujukan rumah sakit. Kepala Bidang SDM Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dr. Elhamangto Zuhdan, M.K.M., menjelaskan bahwa integrasi layanan berbasis teknologi informasi sangat efektif untuk memantau kapasitas ruang perawatan secara langsung guna menghindari penumpukan pasien.
Dari sisi kesiapan sumber daya manusia, perawat komunitas dinilai memiliki peran vital dalam program pencegahan penyakit di lingkungan warga. Akademisi keperawatan komunitas UNIMUS, Dr. Ns. Siti Aisah, M.Kep., Sp.Kom., mengingatkan bahwa perawat masa kini harus adaptif terhadap digitalisasi layanan medis agar mampu mencetak generasi yang sigap menjawab tantangan kesehatan masa depan.