Pemerintah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, berkolaborasi dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memodernisasi sektor pertanian lokal. Langkah strategis ini diwujudkan melalui rencana penerapan teknologi agrivoltaic dan smart farming guna mendukung transformasi daerah menuju industri hijau berkelanjutan.
Peneliti Agrivoltaic sekaligus Dosen Teknik Fisika UGM, Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., menjelaskan bahwa agrivoltaic merupakan inovasi berbasis energi terbarukan yang menggabungkan pertanian dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sistem terintegrasi ini dinilai mampu menekan laju penguapan air tanah, mencegah tanaman mengalami dehidrasi, sekaligus mengoptimalkan produktivitas lahan pertanian untuk menghasilkan energi bersih.
Di sisi lain, pakar pertanian pintar UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, memaparkan pentingnya konsep smart farming yang mengintegrasikan teknologi digital ke dalam manajemen pertanian dari hulu hingga hilir. Dengan dukungan sensor cuaca, sensor tanah, serta pemantauan menggunakan drone, petani dapat memonitor kondisi lahan secara real-time untuk pengambilan keputusan yang lebih presisi dan transparan.
Kepala BAPPERIDA Kabupaten Tegal, Dr. Muhammad Faried Wajdy, menyambut baik kolaborasi riset ini. Pemkab Tegal menargetkan transisi ke industri hijau dapat tercapai pada tahun 2028, dengan rencana implementasi perdana teknologi ini untuk komoditas hortikultura pada 2027 melalui sinergi bersama BUMDes dan kelompok tani setempat.
Kerja sama ini memperkuat hubungan yang telah terjalin antara kedua pihak, setelah sebelumnya sukses menghadirkan solusi listrik bertenaga surya di Desa Wotgalih. Rangkaian penjajakan ini ditutup dengan kunjungan delegasi Pemkab Tegal ke Laboratorium Energi Terbarukan UGM dan peninjauan langsung percontohan lahan agrivoltaic di Sleman.