Pemerintah Indonesia kini tengah menjajaki kemitraan strategis dengan India dalam pengembangan teknologi hilirisasi mineral logam tanah jarang (LTJ). Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan potensi komoditas yang sering dijuluki sebagai 'harta karun super langka' tersebut bagi kepentingan ekonomi nasional.

Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini menjadi salah satu dari 16 nota kesepahaman yang disepakati menyusul pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Kerja sama ini melibatkan sinergi antara Non-Ferrous Materials Technology Development Centre, MIDWEST Ltd., serta PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).

Menurut Brian, fokus utama dari penjajakan ini adalah penguasaan teknologi pemisahan dan pemurnian LTJ. Pihaknya mencatat bahwa India memiliki keunggulan teknologi di sektor tersebut, termasuk kapabilitas dalam pengembangan industri magnet yang menjadi nilai tambah krusial dalam rantai pasok teknologi tinggi.

Sebagai langkah tindak lanjut, tim teknis dari Perminas dan Badan Industri Mineral (BIM) telah melakukan kunjungan ke India untuk mendalami skema kerja sama. Meski detail teknis masih dalam tahap perumusan, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan hilirisasi ini bermuara pada pendirian pabrik pengolahan di Indonesia agar nilai tambah mineral tetap berada di dalam negeri.