Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan bahwa peluang investasi Rusia dalam ekosistem manufaktur domestik memiliki prospek cerah, terutama pada lini industri yang mampu memberikan nilai tambah tinggi bagi transformasi ekonomi nasional. Fokus kerja sama ini diharapkan mampu mengakselerasi modernisasi infrastruktur industri di Indonesia.
Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, memaparkan tiga sektor utama yang menjadi daya tarik bagi investor asal Negeri Beruang Merah tersebut. Pertama, pengembangan mesin industri, rekayasa teknik (industrial engineering), dan manufaktur lanjut (advanced manufacturing) yang krusial untuk meningkatkan produktivitas nasional melalui adopsi teknologi mutakhir.
Sektor kedua yang ditawarkan adalah hilirisasi berbasis sumber daya alam, khususnya pada pengolahan mineral. Langkah ini dinilai selaras dengan agenda pemerintah untuk mengoptimalkan kekayaan komoditas di dalam negeri menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Sementara itu, sektor ketiga mencakup industri berat (heavy industry) serta manufaktur kemaritiman, termasuk penyediaan komponen peralatan pendukung.
Menurut Shinta, sinergi ini diharapkan dapat menciptakan efek limpahan (spillover effect) yang positif, mulai dari transfer teknologi hingga penguatan rantai pasok domestik dan penyerapan tenaga kerja terampil. Momentum pameran INNOPROM 2026 dipandang sebagai titik awal penting untuk mempererat hubungan ekonomi yang lebih substantif dan berorientasi jangka panjang.
Lebih lanjut, Apindo menekankan bahwa indikator keberhasilan kerja sama ini tidak terletak pada jumlah nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani, melainkan pada realisasi investasi yang mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menarik investasi berkualitas yang mampu meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.