Sebanyak 40 peternak itik di Desa Suak Sigadeng, Aceh Barat, kini mulai mengadopsi sistem manajemen peternakan berbasis teknologi. Inisiatif ini merupakan bagian dari kelanjutan Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) tahun kedua yang diinisiasi oleh Universitas Teuku Umar (UTU) bersama Universitas Cipta Mandiri (UNCM).

Program yang menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) Beujroh dan Kelompok Tani Baro Tabina ini didanai langsung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Fokus utamanya adalah memutus rantai kendala produksi yang selama ini membatasi daya saing peternak lokal di pasar yang lebih luas.

Tim ahli yang dipimpin oleh Dr. Izwar, S.Pd.I., M.Pd., memperkenalkan pendekatan diversifikasi produk, salah satunya melalui pelatihan pengolahan telur asin menjadi kerupuk. Selain memberikan nilai tambah pada komoditas telur, para peternak juga dibekali keterampilan teknis untuk menekan biaya operasional dengan memanfaatkan tanaman Azolla sebagai pakan alternatif yang ekonomis.

Dalam kesempatan tersebut, tim juga menyerahkan bantuan fasilitas berupa mesin pelet multifungsi dan alat penetas telur berkapasitas 1.000 butir. Keberadaan teknologi ini diharapkan mampu mengubah pola budidaya konvensional menjadi model usaha mandiri yang lebih efisien dan modern.

Pemerintah Desa Suak Sigadeng menyambut baik dukungan akademisi tersebut. Perwakilan gampong, Akmal Fata, menilai bantuan teknologi ini merupakan terobosan krusial yang tidak hanya memperbaiki kualitas produk, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat dalam mengelola potensi peternakan secara lebih profesional.