Tim akademisi dari Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) menginisiasi langkah inovatif untuk mendukung keberlanjutan sektor perikanan darat di Sumatera Selatan. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), para dosen mengenalkan teknologi ramah lingkungan bertajuk green waste (g-waste) aquaculture berbasis zero water exchange kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Usaha Makmur di Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.
Inovasi ini ditujukan untuk menjawab berbagai persoalan mendasar yang kerap dihadapi para pembudi daya lele lokal, seperti penumpukan limbah organik sisa pakan, tingginya kadar amonia beracun, serta besarnya ketergantungan pada pergantian air secara berkala. Sistem yang dikembangkan memanfaatkan constructed wetland berbasis resirkulasi (RAS), di mana air kolam didaur ulang secara kontinu menggunakan unit biofilter dan media tanaman air. Melalui mekanisme ini, limbah organik dapat dikonversi kembali menjadi nutrisi yang bermanfaat tanpa perlu dibuang ke lingkungan.
Ketua Tim Pelaksana PKM Unsri, Mirna Fitrani, menjelaskan bahwa pelatihan yang dilaksanakan sepanjang September 2026 ini dirancang secara interaktif dan partisipatif. Selain membekali pembudi daya dengan pemahaman teoretis, tim Unsri mengajak para peternak lele, penyuluh perikanan, hingga perangkat desa untuk mempraktikkan langsung pengukuran parameter penting kualitas air, mulai dari suhu, tingkat keasaman (pH), kadar oksigen terlarut, hingga konsentrasi amonia.
Guna memastikan pemahaman teknis berjalan optimal di lapangan, tim riset juga mendirikan unit percontohan atau demonstration plot (demplot) skala operasional di lokasi mitra. Penerapan teknologi ini ditargetkan mampu menekan kadar amonia lebih dari 30 persen serta menghemat penggunaan air dengan mengurangi frekuensi pergantian hingga lebih dari 70 persen, sehingga beban biaya operasional pembudi daya dapat berkurang secara signifikan.
Mirna menegaskan bahwa kegiatan yang didanai DIPA Unsri Tahun Anggaran 2026 ini merupakan wujud nyata implementasi prinsip Diktisaintek Berdampak. Program ini juga selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 terkait pengelolaan air bersih, sekaligus mendukung program unggulan perguruan tinggi dalam memajukan ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Apresiasi positif disampaikan oleh perwakilan Pokdakan Usaha Makmur, Idris. Ia mengakui bahwa selama ini peternak di daerahnya masih mengandalkan pola budidaya tradisional hingga semi-intensif yang bergantung pada pasokan air rawa dan hujan tanpa pengelolaan kualitas air yang terukur. Kehadiran teknologi ini dinilai menjadi solusi terapan yang menjawab kebutuhan mendesak masyarakat dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pembudi daya lele di Desa Tanjung Seteko.