Imperium bisnis hiburan yang dibangun oleh pasangan selebriti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina melalui RANS Entertainment tengah mempersiapkan langkah monumental untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat mekanisme penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO). Perusahaan tersebut memasang target valuasi antara Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun, dengan ambisi menghimpun dana dari publik sebesar kurang lebih Rp430 miliar.
Kendati angka-angka tersebut tampak menjanjikan, konten kreator sekaligus investor Raymond Chin justru mengupas sejumlah temuan kritis yang tercantum langsung dalam dokumen prospektus resmi perusahaan. Melalui analisis mendalam yang ditayangkan di kanal YouTube pribadinya pada Jumat (26/6/2026), Raymond menelanjangi berbagai aspek yang patut menjadi perhatian serius bagi calon investor sebelum memutuskan membeli saham RANS.
Salah satu sorotan utama Raymond tertuju pada kinerja keuangan RANS yang justru menunjukkan tren menurun dalam tiga tahun terakhir. Sepanjang 2025, laba bersih perusahaan hanya mencapai Rp56 miliar, mengalami kemerosotan signifikan sebesar 41 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan paling tajam terjadi pada lini bisnis brand deal dan talent management yang merupakan tulang punggung pendapatan, dengan penurunan mencapai 51 persen menjadi hanya Rp51 miliar.
Yang menarik perhatian Raymond adalah keputusan manajemen RANS untuk tetap membagikan dividen sebesar Rp17 miliar kepada pemegang saham lama di tengah penurunan profitabilitas tersebut. Langkah ini memunculkan pertanyaan mendasar soal motivasi di balik IPO. "Kenapa mereka bagi dividen dari laba setahunnya sebelum IPO? Klaimnya mereka mengambil dari tabungan profit tahun-tahun sebelumnya. Ini tidak ilegal, tapi memicu pertanyaan: apakah IPO ini untuk beneran menumbuhkan bisnis atau jalan keluar yang direncanakan?" ungkap Raymond.
Namun temuan paling krusial yang digarisbawahi Raymond justru bukan soal angka finansial, melainkan pengakuan resmi perusahaan dalam dokumen yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam prospektus tersebut, RANS secara gamblang menyatakan bahwa keberlangsungan bisnisnya bertumpu secara absolut pada sosok Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan keluarga mereka sebagai daya tarik utama perusahaan.
Ketergantungan total pada figur personal ini dinilai Raymond sebagai red flag terbesar bagi siapa pun yang berencana menjadi investor jangka panjang. Meskipun RANS memiliki basis pengikut media sosial yang masif mencapai 155 juta followers, kekuatan tersebut sepenuhnya melekat pada individu, bukan pada sistem bisnis yang mandiri. Artinya, jika popularitas atau produktivitas kedua figur tersebut menurun, fondasi bisnis RANS turut terguncang.
Dengan kisaran harga penawaran saham di level Rp135 hingga Rp170 per lembar, valuasi RANS terhitung sangat premium dengan rasio Price to Earnings Ratio (PER) mencapai 30 hingga 38 kali. Angka tersebut mengindikasikan bahwa investor yang masuk pada harga IPO sejatinya tidak membeli kekuatan fundamental perusahaan saat ini, melainkan membayar mahal untuk ekspektasi pertumbuhan di masa depan yang belum tentu terwujud.