Derasnya arus informasi di media sosial telah mengubah wajah industri media secara drastis. Para praktisi media kini dihadapkan pada tantangan besar untuk tidak hanya menyajikan konten yang menarik, tetapi juga memikirkan model bisnis berkelanjutan di tengah pergeseran preferensi audiens yang lebih mengutamakan konten berbasis visual dibandingkan teks.
Chief Content Officer KapanLagi Youniverse, Wenseslaus Manggut, dalam diskusi lanskap media digital di Banyuwangi, menyoroti bahwa teknologi dan perilaku audiens menjadi dua pemicu utama transformasi ini. Menurutnya, kapasitas otak manusia yang lebih cepat memproses gambar membuat platform seperti TikTok dan YouTube tumbuh subur di tengah masyarakat.
Meski demikian, Wens menekankan bahwa jurnalisme berbasis teks masih memegang peranan krusial yang sulit tergantikan. Teks dianggap memiliki keunggulan kompetitif dalam menyajikan analisis mendalam, pengolahan data yang kompleks, serta memberikan konteks yang lebih utuh pada suatu peristiwa dibandingkan konten visual yang seringkali terbatas durasi dan kedalaman.
Data menunjukkan pergeseran signifikan pada pola konsumsi publik dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Jika pada 2022 teks masih menjadi pilihan utama bagi 69 persen masyarakat, kini tren beralih ke media sosial dengan angka keterlibatan mencapai 64 persen. Perubahan ini menuntut media untuk segera menyesuaikan taktik distribusi agar tetap menjadi rujukan utama bagi pembaca.
Sebagai langkah strategis, Wens menyarankan agar media mulai memanfaatkan kanal WhatsApp yang berbasis komunitas lokal. Pendekatan ini dinilai sangat efektif untuk membangun ikatan personal dengan audiens di tingkat kota maupun kabupaten, sekaligus menciptakan ekosistem informasi yang lebih intim dan relevan bagi masyarakat setempat.