Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng mencatat sebanyak 82 sekolah jenjang TK dan SD mengalami krisis peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Ketimpangan jumlah pendaftar ini terjadi merata dari kawasan pelosok hingga perkotaan di Bali Utara, di mana sejumlah sekolah dasar negeri bahkan dilaporkan hanya mendapatkan dua murid baru.

Berdasarkan pendataan Disdikpora Buleleng, beberapa sekolah mencatatkan angka penerimaan jauh di bawah standar normal. Di antaranya TK Munduk Bestala yang hanya mengumpulkan sembilan siswa, SDN 3 Banyuasri dengan delapan murid, hingga SDN 2 Banjar Bali yang cuma menerima enam siswa. Kondisi paling krusial menimpa lima SD negeri yang masing-masing hanya berhasil memperoleh dua orang peserta didik baru.

Kepala Disdikpora Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Surya Bharata, menegaskan bahwa fenomena sepinya peminat ini bukan dipicu oleh buruknya kualitas pendidikan atau fasilitas sekolah. Faktor utama yang memengaruhi tren tersebut adalah penurunan signifikan jumlah penduduk usia sekolah di lingkungan sekitar serta kendala aksesibilitas geografis.

Surya Bharata menjelaskan bahwa jumlah murid yang sangat sedikit tidak ideal jika disesuaikan dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan, yaitu 15 siswa per rombongan belajar untuk TK dan 28 siswa untuk SD. Kelas yang minim peserta didik dinilai kurang efektif bagi perkembangan interaksi sosial anak serta memicu ketidakefisienan dalam pemanfaatan tenaga pengajar.

Guna menyikapi persoalan ini, pihak Disdikpora Buleleng akan menggelar pemantauan intensif dan evaluasi berkala selama kurun waktu 3 hingga 4 tahun mendatang. Apabila tren penurunan siswa terus berlangsung tanpa perbaikan, pemerintah daerah akan mengambil tindakan tegas berupa penggabungan sekolah (regrouping) ke lokasi terdekat serta meredistribusi para guru demi efisiensi operasional pendidikan.