Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta secara tegas meminta masyarakat untuk mengubah persepsi dalam menyikapi keberadaan anak dengan HIV (ADHIV). Alih-alih mengucilkan, masyarakat didorong untuk memberikan dukungan agar anak-anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain pada umumnya.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat ribuan anak dan remaja di ibu kota yang hidup dengan virus tersebut. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 541 kasus pada anak usia di bawah empat tahun, 497 kasus pada usia lima hingga 14 tahun, serta 1.279 kasus pada remaja usia 15 hingga 19 tahun.
Tantangan utama yang dihadapi saat ini tidak hanya terbatas pada medis, tetapi juga pada aspek psikososial. Kepatuhan anak-anak dalam mengonsumsi terapi antiretroviral (ARV) sering kali terhambat karena minimnya pendampingan konsisten serta tekanan akibat stigma negatif yang masih melekat di lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat banyak keluarga enggan membuka status kesehatan mereka karena khawatir akan perlakuan diskriminatif.
Sebagai langkah strategis, Dinkes DKI Jakarta telah meluncurkan berbagai program, mulai dari skrining terpadu bagi ibu hamil untuk memutus rantai penularan dari ibu ke bayi, hingga pelatihan intensif bagi tenaga kesehatan untuk menekan stigma. Edukasi lintas sektor juga digalakkan agar masyarakat memahami bahwa penularan HIV memiliki mekanisme spesifik, sehingga isolasi sosial bukanlah solusi.
Ani menekankan bahwa dengan pengobatan yang tepat dan dukungan lingkungan yang sehat, penderita HIV tetap memiliki kesempatan untuk hidup produktif. “Yang harus kita jauhi adalah penyakitnya, bukan orangnya. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses kesehatan dan menjalani kehidupan normal tanpa perlakuan tidak adil,” pungkasnya.