PT Ciptadana Sekuritas Asia resmi memulai cakupan terhadap PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dengan memberikan rekomendasi beli. Analis menetapkan target harga di angka Rp900 per saham, yang merepresentasikan potensi apresiasi mencapai 80% dibandingkan harga penutupan terakhir di level Rp500.

Optimisme ini berpijak pada posisi strategis VKTR sebagai pelopor perakitan kendaraan listrik komersial dengan skema Completely Knocked Down (CKD) di Indonesia. Perusahaan tercatat telah mencapai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40% untuk produk bus listriknya, sebuah keunggulan kompetitif yang signifikan di tengah dorongan pemerintah untuk penggunaan produk domestik.

Analis Ciptadana menyoroti sinergi antara segmen suku cadang otomotif yang telah mapan dengan divisi kendaraan listrik yang tengah berkembang pesat. Bisnis suku cadang berfungsi sebagai motor penggerak arus kas yang stabil, memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya lebih agresif guna mempercepat penetrasi di pasar transportasi publik dan logistik.

Data riset menunjukkan bahwa pasar kendaraan komersial di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat lebar. Dengan populasi kendaraan komersial nasional yang melampaui 6 juta unit, jumlah bus dan truk listrik yang beroperasi saat ini masih di bawah 1.000 unit. VKTR membidik peluang ini, terutama melalui target elektrifikasi TransJakarta yang mengagendakan operasional 10.000 bus listrik hingga tahun 2030.

Guna memenuhi lonjakan permintaan di masa depan, VKTR telah mengoperasikan fasilitas perakitan di Magelang, Jawa Tengah, dengan kapasitas produksi mencapai 3.000 unit kendaraan per tahun. Portofolio produknya pun terus terdiversifikasi, mulai dari truk ringan, truk berat, hingga peralatan industri seperti forklift listrik.

Meskipun prospek pertumbuhan jangka panjang dinilai menjanjikan, pihak Ciptadana tetap mengingatkan investor untuk memperhatikan berbagai faktor risiko. Dinamika kebijakan pemerintah, kecepatan adopsi teknologi kendaraan listrik di masyarakat, serta tantangan dalam implementasi proyek skala besar menjadi variabel yang akan menentukan keberhasilan kinerja emiten ke depan.