GUIYANG – Dunia pendidikan tinggi kini dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi menara gading yang teoritis. Melalui partisipasi dalam China-ASEAN Education Cooperation Week (CAECW) 2026 di Provinsi Guizhou, Tiongkok, delegasi Universitas Andalas (UNAND) menyaksikan secara langsung bagaimana ekosistem pendidikan, industri, dan teknologi dapat melebur menjadi satu kesatuan yang dinamis dan aplikatif.
Dipimpin oleh Rektor UNAND, Dr. Efa Yonnedi, bersama Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Prof. Dr. techn. Marzuki, kunjungan ini membuka mata akan pentingnya rekonstruksi kurikulum. Di Guizhou Vocational College of Economics and Business, proses belajar tidak dibatasi oleh dinding kelas. Mahasiswa langsung terlibat dalam mata rantai industri teh, mulai dari budidaya di kebun, pengolahan di pabrik simulasi, hingga strategi pemasaran digital di studio promosi.
Tak hanya di sektor agribisnis, adopsi teknologi mutakhir juga diterapkan pada disiplin ilmu teknik. Mahasiswa dilatih menggunakan perangkat realitas virtual (VR) untuk simulasi pekerjaan berisiko tinggi seperti pengelasan, sebelum akhirnya mempraktikkannya langsung dengan teknologi robotika. Pendekatan ini membuktikan bahwa transformasi digital di kampus bukan sekadar modernisasi fasilitas, melainkan metode untuk menciptakan proses belajar yang lebih aman, efektif, dan presisi.
Langkah progresif ini berbuah manis pada daya serap lulusan institusi tersebut yang konsisten melampaui angka 95 persen dalam tiga tahun terakhir. Mahasiswa dipersiapkan tidak hanya dengan kecakapan teknis, tetapi juga dengan karakter profesional dan etika kerja. Pengalaman ini memberikan inspirasi besar bagi UNAND untuk mengoptimalkan potensi lokal Sumatera Barat, seperti komoditas gambir, kakao, kopi, hingga kuliner rendang, sebagai pusat pembelajaran lintas disiplin yang terintegrasi.
Pelajaran penting lainnya adalah mengenai kemandirian teknologi dan penguasaan bahasa. Keberhasilan Tiongkok membangun ekosistem digital mandiri di tengah pembatasan akses global menunjukkan bahwa universitas harus mampu mencetak kreator teknologi, bukan sekadar pengguna. Kemitraan strategis di masa depan pun diharapkan tidak berhenti pada seremoni penandatanganan dokumen di atas kertas, melainkan mewujud dalam proyek kolaboratif nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.