Pemerintah mulai mengambil langkah konkret dalam menangani darurat sampah di Pulau Bali dengan memperkenalkan teknologi inovatif bernama 'lahsamor'. Inovasi yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini diperkenalkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam agenda Apel Siaga Pilah Sampah yang berlangsung di Lapangan Renon, Denpasar, Selasa lalu.
Zulkifli Hasan menegaskan bahwa efektivitas pengelolaan sampah sangat bergantung pada kedisiplinan masyarakat dalam memilah limbah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Alat lahsamor dirancang khusus untuk mempermudah proses pengolahan sampah organik skala rumah tangga, yang diharapkan mampu mereduksi hingga 40 persen volume sampah harian yang selama ini membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Secara operasional, lahsamor menawarkan kemudahan dibandingkan metode pengomposan konvensional. Pengguna hanya perlu memasukkan sampah organik seberat 0,5 hingga 1 kilogram ke dalam tabung dan memutar tuas untuk memproses kompos secara otomatis. Selain efisien, alat ini dinilai menjadi solusi praktis bagi masyarakat perkotaan yang tidak memiliki lahan luas untuk membuat lubang kompos atau 'teba' tradisional Bali.
Ke depannya, Menko Pangan berharap kapasitas teknologi ini dapat ditingkatkan agar bisa menyasar institusi publik seperti sekolah atau perkantoran dengan volume sampah yang lebih besar. Langkah ini melengkapi komitmen pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah secara sistematis, termasuk rencana peluncuran proyek Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali pada pertengahan tahun 2026.
Pemerintah menilai integrasi antara pemilahan sampah yang disiplin dan adopsi teknologi tepat guna seperti lahsamor serta PSEL menjadi kunci vital untuk mengakhiri ketergantungan pada sistem pembuangan terbuka (open dumping) yang selama ini dinilai tidak lagi relevan dan membahayakan lingkungan.