NAGEKEO — Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pertahanan (Unhan) untuk segera merancang dan meluncurkan teknologi desalinasi air di wilayah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah taktis ini diambil guna mengatasi krisis pasokan air bersih yang kini dihadapi oleh warga terdampak bencana.

Instruksi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Negara saat memimpin rapat koordinasi penanganan dampak gempa bumi NTT di Kabupaten Nagekeo. Menurut Presiden, penerapan sains dan teknologi menjadi kunci penting dalam memitigasi bencana, baik untuk pemenuhan kebutuhan jangka pendek maupun sebagai strategi ketahanan air jangka panjang.

Dalam pelaksanaannya, Presiden meminta kolaborasi erat yang melibatkan BRIN, Unhan, jajaran TNI, serta fakultas teknik dari berbagai universitas tanah air. Target utamanya adalah memproduksi alat desalinasi secara mandiri agar proses distribusi ke wilayah-wilayah krisis dapat berjalan lebih cepat dan efisien.

Lebih lanjut, Prabowo memaparkan bahwa perkembangan teknologi saat ini telah membuat sistem desalinasi jauh lebih terjangkau dibandingkan beberapa dekade lalu. Jika dahulu teknologi ini merupakan fasilitas mahal yang hanya dimiliki negara kaya, kini sistem pengolahan air laut menjadi air tawar tersebut sudah sangat fleksibel untuk diterapkan hingga level pedesaan.

Presiden juga mendorong agar proyek penyediaan air bersih ini diintegrasikan dengan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kawasan perbukitan nonproduktif. Langkah ini diharapkan mampu menyuplai kebutuhan energi untuk berbagai program ekonomi lokal, sekaligus mendorong NTT menjadi salah satu lumbung pangan di masa depan.