Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya untuk memanfaatkan sains dan teknologi secara optimal demi mengatasi krisis air bersih di wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu solusi strategis yang ditekankan adalah pengembangan teknologi desalinasi air laut yang diproduksi secara mandiri di dalam negeri. Arahan ini disampaikan Kepala Negara saat memimpin rapat koordinasi penanganan gempa bumi di Posko Batalyon Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo melaporkan kondisi terkini penyediaan air bersih pascagempa. Pulau Palue di Kabupaten Sikka menjadi salah satu fokus utama karena karakteristik geografisnya sebagai pulau vulkanik dengan sumber air yang sangat terbatas. Sebagai langkah darurat, pemerintah tengah memperbaiki bak penampungan air hujan sekaligus menjajaki penerapan sistem desalinasi berbasis Reverse Osmosis (RO) berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Merespons situasi tersebut, Presiden Prabowo meminta agar teknologi pengolahan air asin menjadi air tawar ini dirancang agar bisa diproduksi secara mandiri. Ia meminta BRIN, Universitas Pertahanan (Unhan), TNI, serta berbagai fakultas teknik di Indonesia bersinergi untuk menciptakan alat desalinasi yang aplikatif dan murah agar dapat segera didistribusikan ke wilayah-wilayah pesisir yang membutuhkan.
Menurut Presiden, mitigasi bencana harus mencakup rencana jangka menengah dan panjang, bukan sekadar tanggap darurat sesaat. Ia optimis teknologi desalinasi saat ini jauh lebih terjangkau dibanding beberapa dekade lalu, sehingga sangat memungkinkan untuk diterapkan hingga ke tingkat desa guna menjamin ketahanan air masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Selain pasokan air, Presiden juga melihat potensi pengembangan energi bersih melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kawasan perbukitan NTT yang belum produktif. Langkah ini diharapkan mampu menyokong kebutuhan energi untuk berbagai sektor ekonomi lokal yang potensial, seperti pertanian kelautan, budi daya rumput laut, dan industri perikanan tangkap yang masih murni.
Melalui integrasi penyediaan air bersih, pemanfaatan energi terbarukan, dan optimalisasi potensi sektor kelautan, pemerintah berkomitmen untuk tidak sekadar membangun kembali infrastruktur yang rusak, melainkan memperkuat fondasi ekonomi NTT agar tumbuh menjadi salah satu lumbung pangan baru di tingkat nasional.