Di berbagai kampus di Amerika Serikat, gelombang protes diam-diam mewarnai momen wisuda tahun ini. Bukan terhadap institusi pendidikan, melainkan terhadap para pemimpin industri teknologi yang diundang untuk berpidato. Para wisudawan yang segera memasuki dunia kerja menunjukkan ketidakpuasan mereka secara terbuka, terutama saat pembicaraan mengarah pada Artificial Intelligence (AI).

Keresahan utama mereka bukan sekadar pada teknologi itu sendiri, melainkan pada narasi yang dibangun para eksekutif. Banyak di antara mereka merasa pidato soal potensi transformatif AI terasa jauh dari realitas yang dihadapi. Dalam benak para lulusan baru, AI kerait erat dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang digunakan perusahaan sebagai dalih efisiensi operasional. Kondisi pasar kerja yang mencekam inilah yang memicu reaksi keras.

Sebuah insiden terjadi pada awal Mei di Universitas Central Florida. Gloria Caulfield, seorang eksekutif di bidang pengembangan real estate, mendapat sambutan berupa sorakan dan yel-yel kekecewaan (boo) setelah menyebut AI sebagai "Revolusi Industri berikutnya". Bagi banyak wisudawan, pernyataan tersebut dianggap mengabaikan kekhawatiran mendalam mereka akan masa depan karier. Seperti yang dilontarkan seorang wisudawan, Houda Eletr, mengagungkan tokoh-tokoh sukses di hadapan lulusan komunikasi dan seni tanpa membahas tantangan nyata yang dihadapi generasi mereka dianggap sebagai bentuk ketidakpekaan.

Suara protes serupa juga terdengar di Universitas Middle Tennessee State. Scott Borchetta, CEO sebuah perusahaan rekaman, menuai cemoohan saat ia menegaskan bahwa AI sedang "menulis ulang industri" dan meminta para wisudawan untuk menerima kenyataan tersebut. Alih-alih meredakan situasi, nada bicaranya yang terkesan menantang justru memicu kekecewaan yang lebih besar di antara audiens.

Di balik momen-momen canggung tersebut, tersimpan gambaran yang lebih dalam. Para wisudawan tidak sekadar menolak sebuah teknologi. Mereka sedang menyuarakan kekecewaan terhadap sebuah ekosistem di mana inovasi kerap diprioritaskan di atas keamanan pekerjaan manusia. Gelombang ejekan ini merupakan bentuk perlawanan simbolis dari generasi yang akan segera merasakan dampak langsung dari revolusi digital yang dibicarakan para pemimpin industri.