Tim nasional Vietnam berhasil menahbiskan diri sebagai penguasa sepak bola Asia Tenggara setelah menjuarai ASEAN Championship 2026. Namun, keberhasilan armada The Golden Star Warriors ini diiringi riak kontroversi yang membayangi jalannya kompetisi, mulai dari kualitas pengadil lapangan hingga mencuatnya isu dugaan pengaturan skor.
Gelar juara dipastikan Vietnam usai bermain imbang 2-2 melawan Thailand pada laga leg kedua final di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi. Hasil ini membawa Vietnam unggul agregat 4-2 setelah sebelumnya mengantongi kemenangan 2-0 di Bangkok, sekaligus menambah koleksi trofi mereka menjadi empat sepanjang sejarah turnamen tersebut.
Laga pamungkas tersebut berjalan penuh drama. Thailand sempat memimpin lewat gol Yotsakon Burapha dan mendapat peluang emas menyamakan agregat lewat titik putih melalui Kakana Khamyok, namun eksekusinya melambung. Keberuntungan berpihak pada Vietnam saat bola sepakan Đỗ Hoàng Hên membentur tiang gawang lalu mengenai kiper Thailand, Chatchai Bootprom, dan bergulir masuk. Meski Thailand sempat unggul kembali lewat Wanchai Jarunongkran, gol bunuh diri Wanchai di masa krusial injury time memastikan laga berakhir imbang dan mengunci kemenangan agregat Vietnam.
Kejadian tak biasa seperti kegagalan penalti dan dua gol bunuh diri memicu spekulasi liar di media sosial mengenai integritas pertandingan. Kendati demikian, hingga saat ini tidak ada bukti sahih yang menunjukkan adanya manipulasi hasil pertandingan dalam laga final tersebut. Kesalahan teknis pemain dan dinamika lapangan dinilai murni sebagai bagian dari drama sepak bola.
Sorotan tajam terhadap mutu kepemimpinan wasit sebenarnya sudah membara sejak fase grup. Salah satu yang paling menyita perhatian publik tanah air adalah keputusan kontroversial dalam laga Grup A antara Indonesia dan Singapura, saat penjaga gawang Singapura kedapatan menangkap bola operan rekannya sendiri, namun wasit bergeming tanpa memberikan tendangan bebas tidak langsung.
Menyikapi berbagai kejanggalan ini, Koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali, mendesak Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Akmal menekankan pentingnya peningkatan standar kepemimpinan wasit demi menjaga muruah dan kepercayaan publik terhadap turnamen bergengsi ini.
Tantangan integritas kian pelik setelah Federasi Sepak Bola Laos (LFF) dilaporkan menyurati Kementerian Keamanan Publik setempat untuk mengusut dugaan keterlibatan pemain mereka dalam praktik suap dan perjudian. Langkah ini diambil menyusul kekalahan telak beruntun yang dialami Laos di fase grup, termasuk takluk 2-7 dari Myanmar, walau pembuktian hukum formal tetap mutlak diperlukan sebelum mengambil kesimpulan.
Secara keseluruhan, ASEAN Championship 2026 menyisakan pekerjaan rumah krusial bagi AFF. Kredibilitas turnamen masa depan kini bergantung pada keseriusan federasi regional tersebut dalam membenahi kualitas wasit, memperketat pengawasan integritas, serta mengadopsi teknologi pertandingan yang lebih transparan.