Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengambil langkah progresif untuk menekan fatalitas akibat kanker leher rahim atau serviks. Langkah strategis ini diwujudkan melalui percepatan implementasi metode skrining berbasis Human Papillomavirus DNA (HPV-DNA) di seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama di wilayah tersebut. Upaya akselerasi ini diawali dengan pembekalan teknis bagi ratusan tenaga medis yang diselenggarakan di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo pada Rabu (22/7/2026).

Kegiatan penguatan kapasitas dan koordinasi lintas profesi tersebut melibatkan sedikitnya 116 tenaga kesehatan dari 33 puskesmas se-Kabupaten Probolinggo. Komponen nakes yang hadir meliputi bidan koordinator, Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM), petugas promosi kesehatan, hingga bidan desa. Mereka dibekali pelatihan intensif mengenai evaluasi program PTM, teknik pengambilan dan pengemasan sampel medis, serta perumusan rencana aksi pemeriksaan di lapangan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr. Nina Kartika, memaparkan bahwa adopsi metode HPV-DNA merupakan bagian vital dari transformasi layanan kesehatan primer. Dibandingkan dengan metode konvensional, pemeriksaan berbasis DNA ini memiliki tingkat akurasi dan sensitivitas yang jauh lebih tinggi. Sistem ini mampu mendeteksi keberadaan virus HPV risiko tinggi bahkan sebelum sel-sel serviks mengalami perubahan menjadi kanker, sehingga memperbesar peluang kesembuhan pasien melalui penanganan dini.

Kendati teknologi medis yang digunakan kini lebih mutakhir, dr. Nina mengakui bahwa rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini masih menjadi tantangan utama di lapangan. Mayoritas pasien baru memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan setelah memasuki stadium lanjut. Mengatasi dinamika tersebut, Dinkes berkomitmen memperluas edukasi publik secara masif untuk mengubah paradigma masyarakat agar tidak ragu melakukan skrining selagi kondisi tubuh masih terasa sehat.

Selain memperkuat edukasi, pertemuan lintas profesi ini juga merumuskan standardisasi operasional pelaksanaan skrining secara bertahap di seluruh puskesmas. Standardisasi ini mencakup presisi teknik pengambilan sampel, keamanan tata kelola penyimpanan spesimen, hingga ketepatan proses pengujian di laboratorium. Melalui standardisasi yang matang dan sinergi yang solid, Dinkes Probolinggo optimistis dapat memperluas cakupan deteksi dini demi menyelamatkan kaum perempuan dari ancaman kanker serviks.