Sebuah studi terbaru mendeteksi adanya paparan hantavirus pada para peternak satwa liar di Vietnam. Temuan ini memicu kekhawatiran regional dan menjadi peringatan serius bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia, yang juga memiliki interaksi erat antara masyarakat dan pasar satwa liar.

Penelitian yang dilakukan terhadap 210 peternak di Provinsi Lao Cai dan Dong Nai menunjukkan bahwa sekitar 8,7 persen responden memiliki antibodi hantavirus, mengindikasikan riwayat infeksi sebelumnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebanyak 1,9 persen di antaranya terdeteksi mengalami infeksi aktif selama periode pengambilan sampel dari Agustus 2023 hingga Maret 2024.

Risiko penularan tertinggi ditemukan pada peternak yang fokus mengurus satwa liar secara langsung, meskipun mereka tidak terlibat dalam aktivitas berburu atau mengonsumsinya. Lemahnya penerapan sistem biosekuriti, seperti minimnya penggunaan alat pelindung diri (APD) saat membersihkan kandang yang terkontaminasi, diduga kuat menjadi pemicu utama transmisi virus ini.

Hantavirus umumnya menyebar ke manusia melalui partikel udara dari urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Di kawasan Asia, varian Seoul dan Hantaan menjadi yang paling dominan dengan potensi menyebabkan demam berdarah disertai sindrom ginjal yang memiliki tingkat kematian mencapai 10 hingga 15 persen.

Ancaman ini bukan hal baru bagi Indonesia. Data mencatat setidaknya ada 23 kasus positif hantavirus dengan tiga korban jiwa dari 250 suspek dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menegaskan urgensi pengawasan ketat terhadap rantai perdagangan dan pemeliharaan satwa liar di tanah air agar tidak memicu penyebaran penyakit zoonosis yang lebih luas.

Sebagai langkah mitigasi, para ahli merekomendasikan penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kolaborasi lintas sektor antara pakar kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan pengelola lingkungan. Peningkatan pengawasan hukum serta edukasi publik mengenai bahaya zoonosis dinilai sebagai kunci utama untuk mencegah potensi pandemi di masa depan.