Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) di Bandung mengambil langkah berani di tengah tren pendidikan tinggi yang didominasi sains, teknologi, dan bisnis. Kampus ini sejak 2023 membuka Program Studi Integrated Arts, sebuah program unik yang menyatukan seni, filsafat, dan teknologi melalui pendekatan berbasis isu. Prodi yang bernaung di bawah Fakultas Filsafat tersebut kini memiliki fasilitas baru berupa bekas gedung perpustakaan di Jalan Aceh Nomor 53, Bandung, yang telah dikonversi menjadi studio, galeri, dan ruang belajar kreatif. Peresmian gedung yang juga difungsikan sebagai Unpar Hub ini berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2026.
Ketua Program Studi Integrated Arts Unpar, Bambang Sugiharto, mengungkapkan bahwa lahirnya program ini dipicu oleh kegelisahan mendalam terhadap dominasi teknologi dalam kehidupan manusia. Menurutnya, di era ketika teknologi tidak hanya mengelilingi tetapi juga merasuk ke dalam diri manusia, ada kebutuhan mendesak untuk merenungkan kembali esensi kemanusiaan — perasaan, kreativitas, imajinasi, dan nurani. Bambang menegaskan bahwa seni dalam konteks program ini bukan sekadar wahana ekspresi, melainkan juga ruang refleksi untuk memahami ulang posisi manusia di tengah laju perkembangan teknologi yang kian tak terbendung.
Yang membedakan Integrated Arts dari sekolah seni konvensional terletak pada metodologi penciptaan karyanya. Jika program seni pada umumnya bertolak dari medium tertentu seperti seni lukis, musik, atau teater, mahasiswa Integrated Arts justru memulai proses kreatif dari sebuah persoalan. Mereka terlebih dahulu menentukan isu yang hendak diangkat — mulai dari relasi manusia-teknologi, krisis lingkungan, hingga problematika sosial — baru kemudian memilih medium yang paling tepat untuk mewujudkan gagasan, baik itu lukisan, instalasi, film, musik, fotografi, maupun pertunjukan.
Kurikulum program ini dirancang secara bertahap. Pada dua tahun pertama, mahasiswa mendalami fondasi seni, filsafat, serta pendekatan lintas disiplin. Memasuki semester selanjutnya, mereka diberi keleluasaan untuk memilih salah satu dari tiga jalur spesialisasi: sebagai pencipta karya atau seniman, pengkaji seni yang menekuni kritik dan analisis, atau pengelola seni budaya. Perpaduan antara dimensi filosofis dan artistik ini menjadikan Integrated Arts sebagai salah satu program studi paling langka di Indonesia.
Rektor Unpar, Tri Basuki Joewono, menilai kehadiran Integrated Arts membawa perspektif segar ke dalam ekosistem kampus yang selama ini didominasi pendekatan teknis dan rekayasa. Ia meyakini bahwa meskipun usianya masih belia, program ini mampu memberikan warna baru dan menghidupkan kampus dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Pendekatan berbasis isu yang menjadi roh Integrated Arts tampak nyata dalam pameran karya mahasiswa bertajuk Gulali (Gali Ulang Lapis Ingatan) yang digelar pada 21-27 Juni 2026. Pameran ini menampilkan sembilan karya mahasiswa semester dua di Galeri 11 Unpar dengan beragam medium. Uniknya, mahasiswa juga bebas memilih lokasi pameran di luar galeri, termasuk di angkutan kota, ruang perpustakaan, hingga ruang-ruang publik lainnya.
Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari Marshella Citra, yang menghadirkan workshop menanam tanaman sebagai medium seninya. Dalam karya interaktif tersebut, pengunjung yang tidak saling mengenal dipasangkan dalam satu kelompok, lalu diberi hanya satu pot dan satu bibit tanaman. Mereka harus berkolaborasi mulai dari mencampur tanah, menanam, hingga memutuskan siapa yang berhak membawa pulang tanaman itu. Karya ini lahir dari keresahan Citra terhadap semakin renggangnya interaksi antarmanusia. Baginya, seni seharusnya bukan hanya objek yang dipandang, melainkan pengalaman yang melibatkan secara langsung.
Sementara itu, mahasiswa lain bernama Lunara Anaqi memilih pendekatan yang mempertemukan seni visual dan sains. Melalui karya berjudul Between Chaos and Order, ia memanfaatkan getaran suara dari sebuah lagu untuk membentuk pola-pola pasir yang kemudian ditransformasikan menjadi karya tiga dimensi. Luna ingin menunjukkan bahwa musik tidak hanya bisa dinikmati melalui pendengaran, tetapi juga dapat dialami secara visual melalui bentuk-bentuk yang dihasilkan gelombang suara.
Kehadiran Integrated Arts di Unpar menandai sebuah kesadaran baru dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia. Di saat kehidupan manusia semakin dikepung oleh teknologi, kebutuhan akan ruang untuk mempertanyakan, merasakan, dan membayangkan kembali posisi kemanusiaan justru menjadi semakin krusial. Program ini menawarkan jawaban bahwa seni, ketika dikawinkan dengan filsafat dan teknologi, mampu menjadi instrumen refleksi yang relevan untuk menghadapi tantangan zaman.