Sorotan tajam kini tertuju pada tim nasional Argentina di pentas Piala Dunia. Munculnya julukan sinis "VARgentina" di kalangan pencinta sepak bola memicu perdebatan hangat mengenai apakah skuad yang diperkuat Lionel Messi tersebut benar-benar mendapat perlakukan istimewa melalui keputusan teknologi Video Assistant Referee (VAR).
Analisis data statistik terbaru mulai menyingkap tabir di balik tuduhan publik tersebut. Grafik riset yang dirilis oleh NetSI Sport menunjukkan bahwa menjelang laga perempat final, Argentina menjadi satu-satunya tim di fase gugur yang pelanggarannya sama sekali belum pernah ditinjau ulang oleh VAR. Sebaliknya, mereka justru tercatat sebagai tim yang paling sering diuntungkan oleh intervensi teknologi tersebut atas pelanggaran yang dilakukan oleh tim lawan.
Ketegangan memuncak saat Argentina menyingkirkan Swiss di babak perempat final. Keputusan wasit mengusir penyerang Swiss, Breel Embolo, menyusul peninjauan VAR yang berujung pada kartu merah, memicu protes keras. Pelatih Swiss, Murat Yakin, bahkan mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
Kendati demikian, para ahli meminta publik melihat masalah ini secara objektif. Direktur Riset NetSI Sport, Brennan Klein, menjelaskan bahwa dominasi Argentina dalam statistik tersebut terjadi karena VAR mendeteksi pelanggaran krusial yang awalnya luput dari pandangan wasit di lapangan, bukan karena adanya konspirasi. Sementara itu, mantan wasit FIFA Christina Unkel menilai bahwa penerapan protokol perwasitan baru di turnamen ini memang rentan memicu perdebatan terkait persepsi keadilan di mata suporter.
Di sisi lain, otoritas sepak bola dunia (FIFA) membantah keras adanya keberpihakan tersebut. Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa seluruh keputusan diambil secara independen dan profesional, merujuk pada klarifikasi serupa saat laga kontra Mesir di babak 16 besar. Kini, di tengah pusaran kontroversi yang belum mereda, Argentina harus bersiap memfokuskan konsentrasi untuk menghadapi laga semifinal melawan Inggris.