Olahraga lari santai atau yang kini populer dengan sebutan slow jogging tengah menjadi tren baru di kalangan masyarakat. Berbeda dengan olahraga lari pada umumnya yang menguras energi, aktivitas ini mengutamakan kenyamanan fisik, di mana pelakunya masih dapat mengobrol dengan santai tanpa terengah-engah selama beraktivitas.

Pakar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zainal Muttaqin, menekankan pentingnya persiapan yang matang sebelum memulai slow jogging, meskipun olahraga ini tergolong ringan. Dua aspek krusial yang wajib diperhatikan adalah kecukupan hidrasi tubuh dan pemilihan perlengkapan yang tepat. Menurutnya, asupan air harus dijaga sebelum dan selama berolahraga untuk mencegah risiko panas berlebih (overheating), disertai penggunaan sepatu lari yang ideal demi meredam benturan pada sendi lutut serta panggul.

Dari sisi medis, slow jogging menawarkan efek positif yang luar biasa bagi tubuh. Latihan intensitas ringan dalam durasi panjang ini sangat efektif untuk membakar lemak secara optimal, melancarkan sirkulasi darah hingga ke jaringan kulit luar, serta melatih efisiensi kerja jantung. Hal ini menjadikannya pilihan yang sangat direkomendasikan bagi mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, olahraga rekreatif ini juga terbukti menjaga kesehatan mental. Prof. Zainal menjelaskan bahwa gerakan konstan saat berlari santai mampu menstimulasi saraf vagus (vagus nerve) di otak. Saraf ini berperan penting dalam menyeimbangkan respons stres, sehingga membantu seseorang merasa lebih tenang, ceria, dan meminimalisasi risiko depresi.

Sebagai langkah awal bagi pemula, Prof. Zainal mengingatkan agar tidak memaksakan diri dan mengendalikan ekspektasi saat berlari. Memulai olahraga secara bertahap dan konsisten jauh lebih penting untuk menghindari cedera fisik dibandingkan memacu kecepatan secara instan.