Surabaya menyaksikan lonjakan minat terhadap olahraga mini soccer di kalangan para pekerja profesional. Tren ini tidak hanya menjadi sarana menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga mempererat hubungan silaturahmi antarinstitusi, khususnya di sektor kesehatan.
Fenomena tersebut tercermin dalam turnamen mini soccer persahabatan yang digelar pada Minggu (28/6/2026). George Erik Gunawan, ketua panitia penyelenggara dari Prodia, mengungkapkan bahwa ajang tahun ini diikuti oleh delapan rumah sakit dan laboratorium di Surabaya — melonjak dua kali lipat dari penyelenggaraan sebelumnya yang hanya diikuti empat institusi kesehatan.
"Sekarang ada mini soccer yang lebih banyak peminat. Tahun lalu itu futsal dan yang ikut empat tim. Antusiasme olahraga di kalangan pekerja saat ini meningkat. Bahkan, masih banyak peminat lain yang belum sempat bergabung," jelas George Erik.
Menurut George Erik, meningkatnya popularitas mini soccer berakar dari kesadaran bahwa aktivitas fisik merupakan kebutuhan penting bagi para pekerja. Ia menegaskan bahwa tenaga kesehatan seharusnya menjadi teladan dalam menerapkan gaya hidup sehat bagi masyarakat luas. Selain itu, komunitas antarpekerja rumah sakit yang memiliki kedekatan emosional turut mendorong terselenggaranya kegiatan olahraga bersama secara rutin.
Jovano, salah seorang peserta turnamen, mengaku baru pertama kali mencoba mini soccer setelah melihat tren yang terus berkembang di berbagai daerah, termasuk Surabaya. Ia menilai kegiatan serupa perlu diagendakan secara berkala karena manfaatnya bersifat ganda — menyehatkan sekaligus membangun jejaring profesional antarinstansi.
"Mulai banyak rekan di tempat saya bekerja yang sebelumnya jarang berolahraga kini tertarik turun ke lapangan. Bahkan yang dulunya aktif bermain futsal pun mulai beralih ke mini soccer," ungkap Jovano, menggambarkan daya tarik format olahraga ini yang dinilai lebih fleksibel dan inklusif.
Pandangan serupa disampaikan oleh Dani Cantona, pelatih Persebaya U-11, yang turut meramaikan gelaran tersebut. Ia menilai turnamen mini soccer antarpekerja memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik maupun hubungan sosial para pesertanya. Meskipun kemampuan bermain para peserta bervariasi, suasana pertandingan tetap mengalir santai dan menyenangkan.
"Teman-teman ini sama-sama masih belajar. Ada yang sudah mahir, ada pula yang masih perlu berlatih. Jadi semua menikmati. Kita mencari kesenangan dan silaturahmi, bukan sekadar mengejar kemenangan," kata Dani, menekankan konsep fun game yang menjadi roh utama kompetisi di kalangan pekerja.
Para penyelenggara dan peserta menaruh harapan besar agar tren positif ini dapat berkembang lebih luas di masa mendatang. Mereka membayangkan turnamen mini soccer antarpekerja tidak lagi terbatas di lingkup Surabaya, melainkan dapat merambah ke tingkat antarprovinsi hingga skala nasional sebagai gerakan olahraga dan gaya hidup sehat bagi kalangan profesional.