Gelombang resistensi terhadap integrasi paksa teknologi Kecerdasan Buatan (AI) kini mulai bermunculan di tingkat akar rumput. Di sejumlah perpustakaan umum di Amerika Serikat, kelas-kelas bertajuk "Menghindari AI" mendadak kebanjiran peminat. Alih-alih belajar memanfaatkan teknologi baru tersebut, para peserta yang didominasi orang dewasa justru datang untuk mempelajari cara menonaktifkan fitur AI bawaan seperti Apple Intelligence dan Gemini pada gawai mereka.
Fenomena ini dipicu oleh rasa frustrasi pengguna terhadap langkah raksasa teknologi yang secara sepihak menyisipkan fitur AI ke dalam sistem operasi tanpa persetujuan eksplisit. Para inisiator program, yang sebagian besar merupakan pustakawan, menegaskan bahwa gerakan ini bukan bentuk penolakan terhadap inovasi digital. Sebaliknya, program ini bertujuan mengembalikan otonomi pengguna agar mereka memiliki kendali penuh atas perangkat pribadi yang mereka miliki.
Tren global ini memberikan pelajaran penting bagi arah transformasi digital di Indonesia. Seiring makin masifnya penggunaan AI pada sektor perbankan, niaga elektronik (e-commerce), dan layanan publik, potensi resistensi serupa sangat mungkin terjadi di tanah air jika masyarakat tidak diberikan pilihan yang jelas untuk menonaktifkan fitur-fitur otomatis tersebut.
Guna mengantisipasi hambatan dalam adopsi AI nasional, edukasi publik yang berimbang menjadi sangat krusial. Perpustakaan daerah serta komunitas literasi digital di Indonesia dapat mengambil peran penting ini dengan menyediakan edukasi kritis, membantu masyarakat memahami manfaat AI sekaligus memberikan keterampilan untuk mengontrol penggunaannya secara bijak.