Implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menuntut pendekatan yang lebih komprehensif. Komunikasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai instrumen publikasi program keberlanjutan, melainkan harus diintegrasikan ke dalam strategi bisnis jangka panjang organisasi agar mampu menghasilkan dampak yang terukur bagi seluruh pemangku kepentingan.
Pandangan tersebut disampaikan oleh praktisi komunikasi korporat, Indra Ardiyanto, dalam ajang The 5th Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 di Jakarta. Menurutnya, kesalahan umum yang kerap terjadi adalah memperlakukan ESG sebagai aktivitas tambahan atau jangka pendek, padahal idealnya, prinsip keberlanjutan harus menjadi bagian dari DNA atau identitas utama perusahaan dalam setiap pengambilan keputusan.
Indra menegaskan bahwa komunikasi ESG yang efektif berperan sebagai jembatan antara komitmen perusahaan dan kepercayaan publik. Untuk menghindari stigma 'greenwashing', organisasi diwajibkan memegang teguh tiga pilar utama: autentisitas pesan, konsistensi antara kebijakan dan tindakan, serta keterlibatan aktif dari para pemangku kepentingan seperti investor, karyawan, hingga regulator.
Lebih lanjut, keberhasilan strategi ini tidak lagi diukur melalui volume eksposur media semata. Evaluasi harus menyasar indikator yang lebih substansial, termasuk perubahan persepsi publik, peningkatan kualitas pelaporan keberlanjutan, hingga perubahan nyata dalam perilaku organisasi yang berdampak pada penguatan kepercayaan jangka panjang.
Dengan mengadopsi pola komunikasi yang strategis, perusahaan diharapkan mampu membuktikan bahwa komitmen terhadap aspek keberlanjutan bukanlah beban operasional, melainkan pendorong utama pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan bermakna di masa depan.