Wilayah pesisir timur China kembali berada dalam ancaman bencana hidrometeorologi setelah Topan Bavi mendarat di daratan pada akhir pekan ini. Badai yang memiliki bentang hingga 1.000 kilometer tersebut menyapu kota pesisir Taizhou dan Wenzhou, memaksa pemerintah setempat melakukan evakuasi besar-besaran terhadap hampir dua juta jiwa demi memitigasi risiko korban jiwa.

Sebelum tiba di China, Topan Bavi diketahui sempat melewati wilayah Jepang dan Taiwan, serta memicu tanah longsor yang menelan belasan korban jiwa di Filipina. Meskipun intensitasnya telah menurun menjadi Kategori 1, otoritas setempat tetap menaruh kewaspadaan tinggi. Volume uap air yang masif dalam pita hujan badai ini diprediksi akan memicu curah hujan ekstrem, terutama di wilayah Provinsi Zhejiang dan Fujian.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah melumpuhkan aktivitas publik di kawasan terdampak. Seluruh sekolah, perkantoran, dan kegiatan luar ruangan dihentikan sementara waktu. Dampak sistemik juga dirasakan pada sektor transportasi, di mana sedikitnya 400 penerbangan domestik maupun internasional dibatalkan, serta operasional kereta api cepat dihentikan untuk mencegah kecelakaan fatal.

Kondisi ini semakin diperparah mengingat wilayah selatan China masih berupaya memulihkan diri pasca terjangan Topan Maysak yang terjadi awal pekan lalu. Topan Maysak sebelumnya telah menelan 39 korban jiwa dan merusak sektor pertanian secara signifikan. Saat ini, fokus utama otoritas terkait adalah memastikan keselamatan sepuluh juta penduduk di Wenzhou yang berada tepat di jalur lintasan badai guna meminimalkan dampak kerusakan lebih lanjut.