Tiongkok terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam ekspansi infrastruktur digital global. Hingga akhir Juli 2026, jumlah pelanggan seluler berbasis teknologi generasi kelima (5G) di Negeri Tirai Bambu tersebut dilaporkan menembus angka 1,3 miliar, mencakup sekitar 70,5 persen dari total pengguna layanan seluler secara nasional.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok (MIIT), integrasi jaringan super cepat ini ditopang oleh keberadaan 5,15 juta Base Transceiver Station (BTS) 5G yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah infrastruktur pemancar ini bertambah sekitar 316.000 unit sejak awal tahun, merepresentasikan hampir 40 persen dari total infrastruktur pemancar seluler di negara tersebut.

Pertumbuhan masif ini selaras dengan peningkatan konsumsi data digital masyarakat. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, lalu lintas internet seluler di Tiongkok mencapai 258,7 miliar gigabita (GB), melonjak sebesar 17,6 persen dibanding tahun lalu. Rata-rata konsumsi data per pelanggan kini menyentuh 23,81 GB setiap bulannya, yang didorong oleh kebutuhan konten digital berkualitas tinggi.

Di sisi lain, pergeseran tren komunikasi semakin terlihat dengan merosotnya layanan konvensional. Panggilan suara tradisional tercatat menurun sebesar 6,5 persen, sementara penggunaan layanan pesan singkat (SMS) menyusut 8,7 persen secara tahunan. Fenomena ini menegaskan migrasi total masyarakat menuju platform komunikasi berbasis internet.

Selain pelanggan personal, ekosistem Internet of Things (IoT) juga berkembang pesat dengan jumlah perangkat terhubung mencapai hampir 3 miliar unit. Jaringan broadband tetap berkecepatan tinggi (Gigabit) pun semakin diminati, di mana sekitar 260 juta pelanggan kini menikmati kecepatan akses internet minimal 1 Gbps untuk mendukung aktivitas industri modern dan pintar.

Langkah ekspansif ini merupakan pilar utama dari strategi jangka panjang "Digital China" dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030). Pemerintah Tiongkok menargetkan industri inti ekonomi digital mampu berkontribusi hingga 12,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2030, memperkokoh digitalisasi di segala lini sektor produktif.