BANDUNG — Penggunaan teknologi berbasis data kini menjadi pilar krusial dalam menghadapi kompleksitas operasional di industri pertambangan nasional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi erat antara TransTRACK dengan PT Putra Perkasa Abadi (PPA) dalam lokakarya bertajuk "TransTRACK x PPA" yang diselenggarakan di Bandung pada 18–20 Agustus 2026. Agenda ini diikuti oleh puluhan delegasi PPA untuk merumuskan integrasi sistem keselamatan dan efisiensi kerja di lapangan.

Kemitraan ini terjalin di tengah pesatnya laju industri ekstraktif Indonesia. Merujuk pada data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, produksi batu bara nasional pada 2025 sukses menyentuh angka 817,48 juta ton. Skala produksi yang masif tersebut menuntut manajemen operasional yang lebih presisi, terutama dalam mitigasi risiko kerja dan optimalisasi armada tambang menggunakan kecerdasan buatan.

Founder sekaligus CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, menekankan bahwa penerapan teknologi di sektor pertambangan harus melampaui fungsi pengawasan visual semata. Menurutnya, sistem digital harus mampu memprediksi risiko serta menyajikan data aktual yang memudahkan pengambilan keputusan taktis secara cepat di lapangan. Kemitraan dengan PPA difokuskan untuk merancang solusi yang relevan dengan dinamika riil area pertambangan.

Hubungan kerja sama yang telah dirintis sejak tahun 2024 ini juga merefleksikan keberhasilan strategi retensi pelanggan TransTRACK. Chief Operating Officer TransTRACK, Ledi Hari Setiawan, menjelaskan bahwa kolaborasi ini telah bertransformasi dari sekadar penyediaan perangkat lunak menjadi kemitraan strategis jangka panjang. Langkah ini secara efektif mampu menekan tingkat kehilangan pelanggan (customer churn) dengan berfokus pada inovasi berkelanjutan.

Dalam lokakarya tersebut, PPA mengeksplorasi ekosistem teknologi TransTRACK yang komprehensif, mulai dari sistem pelacakan langsung (Live Tracking), penjadwalan operator, manajemen bahan bakar, hingga kalkulator emisi karbon. Eksplorasi ini didukung oleh sejumlah mitra teknologi global seperti Michelin, Howen Technologies, dan CO2 Connect, serta didukung oleh TransTRACK Academy guna meningkatkan kecakapan SDM di lapangan.

Dari sisi keselamatan kerja (SHE), PPA memanfaatkan teknologi tersebut sebagai instrumen preventif guna menekan angka kecelakaan kerja. Department Head SHE Corporate PPA, Rozzaq Alhanif Islamudin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerapkan sistem Mobile Digital Video Recorder (MDVR). Perangkat pintar ini berfungsi mendeteksi tingkat kelelahan operator alat berat secara langsung, sehingga potensi bahaya dapat diantisipasi sebelum insiden terjadi.

Menatap masa depan, kolaborasi kedua perusahaan ini akan diarahkan pada pengembangan teknologi deteksi dini kelayakan infrastruktur jalan tambang. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memperketat standar keselamatan operasional di area kerja, melainkan juga mendukung target PPA dalam mewujudkan prinsip Good Mining Practice demi menjadi kontraktor tambang mineral dan batu bara terkemuka di tanah air sebelum tahun 2030.