Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tantangan untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar minyak sawit dunia. Transformasi yang diperlukan tidak hanya terfokus pada peningkatan volume produksi, melainkan juga pada penerapan standar keberlanjutan, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan produk bernilai tambah.

Hal ini ditegaskan oleh Dr. Mulono Apriyanto, Wakil Sekretaris V DPP APKASINDO, dalam Seminar Pengelolaan Sawit Berkelanjutan di Pekanbaru. Menurutnya, pasar global kini menuntut lebih dari sekadar produksi massal. Kepatuhan terhadap standar internasional, transparansi rantai pasok, dan inovasi produk menjadi penentu daya saing.

Sertifikasi keberlanjutan menjadi fondasi utama. Standar nasional Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) menjamin legalitas usaha, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab sosial. Sementara itu, sertifikasi global seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) memberikan jaminan kepada pasar internasional tentang praktik produksi yang bertanggung jawab.

Kombinasi sertifikasi ini menjadi modal penting untuk memenuhi berbagai regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) dan prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation). Sertifikasi, tegas Mulono, bukan sekadar administrasi, melainkan instrumen untuk meningkatkan kepercayaan dan akses pasar.

Selain sertifikasi, peningkatan produktivitas menjadi syarat mutlak. Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) strategis dipercepat untuk mengganti tanaman tua dengan bibit unggul. Langkah ini adalah investasi jangka panjang yang akan meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan petani.

Pemanfaatan teknologi modern juga krusial. Digitalisasi memungkinkan pemantauan kebun secara real-time dan pengambilan keputusan yang presisi. Penggunaan drone, sensor, dan pemetaan satelit membantu meningkatkan efisiensi serta mengurangi biaya produksi.

Mekanisasi perkebunan melalui alat dan mesin modern juga diperlukan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan keselamatan. Transformasi ini harus dilakukan oleh seluruh pelaku usaha, termasuk petani rakyat, agar mampu memenuhi standar yang berlaku.

Pilar ketiga adalah hilirisasi produk. Indonesia tidak boleh hanya mengekspor bahan baku. Pengembangan produk turunan bernilai tambah seperti biodiesel, bioavtur, oleokimia, kosmetik, dan pangan fungsional memiliki potensi besar untuk meningkatkan kontribusi sektor sawit terhadap perekonomian nasional.

Posisi Indonesia saat ini masih kuat. Produksi CPO nasional pada 2025 mencapai 51,66 juta ton, dengan nilai ekspor mencapai US$35,87 miliar ke lebih dari 150 negara. Pada Januari-Februari 2026, nilai ekspor bahkan meningkat 26,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Mulono menegaskan, komitmen berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan adalah kunci. Masa depan daya saing sawit Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan menjaga kualitas, meningkatkan produktivitas, memperkuat hilirisasi, memenuhi standar internasional, dan menjamin keberlanjutan di setiap proses produksi.