Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengambil langkah progresif untuk menekan angka kematian ibu (AKI). Upaya ini diwujudkan melalui penguatan integrasi layanan kesehatan ibu dan anak serta perluasan sinergi lintas sektor di seluruh kabupaten dan kota se-Kaltim.
Langkah serius ini diambil menyusul laporan Dinkes Kaltim yang mencatat adanya 32 kasus kematian ibu hamil berdasarkan domisili sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah untuk segera mengoptimalkan intervensi secara terstruktur, mulai dari tindakan promotif, preventif, hingga kuratif.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menjelaskan bahwa pihaknya kini memperketat deteksi dini terhadap faktor risiko kehamilan di lapangan. Selain itu, pendampingan intensif bagi ibu hamil berisiko tinggi serta optimalisasi sistem rujukan antarfasilitas kesehatan di tingkat daerah juga terus ditingkatkan demi keselamatan pasien.
Program penyelamatan ibu hamil ini juga diselaraskan dengan pendekatan siklus hidup bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kolaborasi ini berfokus pada edukasi kesehatan reproduksi remaja, penguatan program keluarga berencana, hingga pemenuhan gizi melalui program makanan bergizi gratis bagi ibu hamil guna mencegah komplikasi persalinan.
Melalui penguatan kelembagaan dan sinkronisasi anggaran yang terus dimatangkan bersama pemerintah pusat, Pemprov Kaltim optimistis target penurunan angka kematian ibu dapat dicapai secara berkelanjutan demi menjamin layanan kesehatan yang aman dan berkualitas.