Gelombang panas yang makin sering melanda Eropa tidak serta-merta membuat masyarakat di benua tersebut bergantung penuh pada pendingin udara atau air conditioner (AC). Di banyak negara, rumah-rumah justru dirancang dan dikelola dengan pendekatan berbeda agar tetap nyaman meski suhu luar ruangan meningkat tajam.

Merujuk laporan CNN, tingkat penggunaan AC di Eropa masih tergolong rendah. Hanya sekitar 20 persen bangunan dan hunian yang memakai perangkat pendingin ruangan. Di sejumlah negara, angkanya bahkan lebih kecil; Jerman disebut hanya sekitar 6 persen, sementara di Spanyol baru sekitar separuh rumah yang memiliki AC.

Salah satu alasan utama rumah-rumah di Eropa tetap bisa terasa sejuk adalah desain bangunan yang mengutamakan sirkulasi udara. Banyak hunian dibuat dengan akses aliran udara yang baik, sehingga panas tidak mudah terperangkap di dalam ruangan. Pemilihan material bangunan juga menjadi perhatian karena bahan yang lebih tahan panas dapat membantu meredam suhu dari luar.

Selain itu, elemen arsitektur seperti penutup jendela, tenda, tirai luar, hingga atap yang menjorok banyak digunakan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung. Cara sederhana ini membantu menahan panas sebelum masuk ke dalam bangunan, terutama saat suhu mencapai puncaknya pada siang hari.

Di beberapa bangunan, teknologi pompa panas atau heat pump juga mulai diterapkan. Perangkat ini dapat membantu menghangatkan ruangan saat musim dingin dan mendinginkannya ketika cuaca panas. Dibandingkan sistem pendingin konvensional, pompa panas dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menambah emisi karbon secara langsung. Namun, penggunaannya belum merata karena biaya pembelian dan pemasangannya masih relatif mahal.

Upaya menjaga kesejukan tidak hanya dilakukan dari dalam bangunan. Kawasan permukiman dan kota-kota di Eropa juga banyak mengandalkan penghijauan. Pohon, taman, dan vegetasi di sekitar hunian berperan penting menurunkan suhu lingkungan sekaligus mengurangi efek pulau panas perkotaan yang umum terjadi di wilayah padat bangunan.

Sejumlah kota besar bahkan mengembangkan fasilitas pendinginan publik. Paris, Stockholm, dan Kopenhagen, misalnya, menerapkan berbagai solusi seperti penyemprotan kabut, pusat pendinginan umum, hingga sistem pemanfaatan air dingin melalui jaringan pipa bawah tanah untuk membantu menurunkan suhu di banyak bangunan.

Inovasi lain yang mulai berkembang adalah penggunaan sensor dan kecerdasan buatan untuk mengatur sistem pendinginan secara lebih efisien. Teknologi pintar ini disebut mampu menekan kebutuhan energi sekaligus menurunkan emisi, dengan efisiensi pendinginan yang diklaim dapat mencapai sekitar 40 persen.

Untuk kebutuhan sehari-hari, warga Eropa juga memakai cara-cara praktis saat beraktivitas di luar maupun di dalam rumah. Kipas angin listrik, kompres es, mandi air dingin, hingga berenang di sungai atau kanal menjadi pilihan untuk menurunkan suhu tubuh ketika cuaca sangat panas.

Rendahnya penggunaan AC di Eropa juga dipengaruhi faktor historis. Dalam beberapa dekade sebelumnya, banyak wilayah Eropa tidak merasa membutuhkan AC karena iklimnya relatif lebih sejuk. Selain itu, banyak bangunan lama memang sudah dibuat untuk menahan panas pada musim panas dan menjaga kehangatan pada musim dingin.

Kendala teknis turut menjadi alasan. Tidak semua rumah, terutama bangunan tua, memungkinkan dipasangi AC secara mudah. Helge Brinkmann, associate director Boston Consulting Group yang berfokus pada energi hijau dan lingkungan, menyebut pemasangan sistem pendingin di bangunan baru jauh lebih mudah dibandingkan pada infrastruktur lama yang sudah berdiri.

Di sisi lain, sejumlah negara Eropa juga memiliki kebijakan dan komitmen lingkungan yang membatasi penggunaan energi berlebih, termasuk dari AC. Di beberapa tempat, penggunaan AC bahkan dapat menimbulkan stigma tertentu terhadap properti karena dianggap tidak sejalan dengan prinsip hunian hemat energi.

Faktor biaya ikut memperkuat kondisi tersebut. Bagi banyak warga Eropa, AC bukan perangkat murah. Biaya tidak hanya muncul dari harga unit, tetapi juga pemasangan, penyesuaian bangunan, konsumsi listrik, hingga perawatan berkala. Karena itu, kombinasi desain pasif, penghijauan, dan teknologi hemat energi masih menjadi pilihan utama untuk menghadapi panas ekstrem.