Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk segera merumuskan dan mengembangkan berbagai opsi teknologi guna mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda wilayah Indonesia. Arahan ini menjadi lampu hijau bagi BRIN untuk mempercepat riset mitigasi bencana berbasis sains.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengonfirmasi instruksi kepala negara tersebut saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan, Jakarta. Menurutnya, lembaga riset nasional ini kini tengah memetakan potensi penerapan teknologi yang aplikatif dan efisien untuk mempercepat penanganan api di lapangan.

Salah satu instrumen andalan yang siap dioptimalkan adalah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Arif menjelaskan bahwa BRIN telah memiliki kapasitas untuk memicu hujan buatan menggunakan material natrium klorida (NaCl) berukuran mikro, tepatnya 25 mikron. Metode ini diklaim sangat efisien dalam menurunkan hujan di titik-titik rawan karhutla.

Tidak hanya mengandalkan teknologi modern, BRIN juga tengah meneliti metode pemadaman api menggunakan tepung, sebuah praktik yang lahir dari inisiatif masyarakat lokal. Sesuai fungsinya, BRIN akan melakukan validasi ilmiah untuk memastikan efektivitas serta keamanan penggunaan bahan tersebut sebelum diimplementasikan secara massal.

Kendati hasil kajian awal menunjukkan potensi teoritis yang baik, tantangan terbesar terletak pada aspek skalabilitas. Pemadaman karhutla membutuhkan penanganan dalam skala area yang sangat luas. Oleh sebab itu, BRIN menggandeng Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk melakukan uji coba lapangan guna melihat sejauh mana metode ini dapat diterapkan secara efektif di area kebakaran yang masif.