Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil langkah cepat dengan memobilisasi 848 tenaga kesehatan ke tujuh provinsi di Indonesia yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah darurat ini diambil setelah bencana kabut asap tersebut berdampak pada lebih dari 10,6 juta jiwa dan memicu lonjakan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Berdasarkan laporan situasi terbaru dari Kemenkes, wilayah yang terimbas sebaran asap meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Dari total 10.674.201 warga terdampak, sebanyak 123 orang dilaporkan harus menjalani rawat inap di rumah sakit akibat kondisi medis yang memburuk, sementara dua orang menjalani rawat jalan. Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa maupun gelombang pengungsian.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa dampak karhutla sangat serius bagi kesehatan manusia akibat paparan asap dan partikulat halus (PM2.5). Kemenkes memprioritaskan perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta para pekerja lapangan yang sering beraktivitas di luar ruangan.
Hingga akhir Agustus, tercatat akumulasi kasus ISPA telah menembus angka 13.449 kasus yang tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi tersebut. Selain memicu gangguan pernapasan, paparan asap pekat ini juga berpotensi menyebabkan iritasi mata, peradangan kulit, hingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke pada kondisi paparan ekstrem.
Kualitas udara di beberapa wilayah dilaporkan telah masuk dalam level yang mengkhawatirkan. Kota Pontianak di Kalimantan Barat mencatatkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di angka 328, yang masuk dalam kategori berbahaya. Sementara itu, wilayah lain seperti Kabupaten Tebo (Jambi), Barito Selatan dan Katingan (Kalimantan Tengah), serta Kabupaten Pali (Sumatera Selatan) berada pada kategori sangat tidak sehat dengan indeks di atas 250.
Guna memperkuat penanganan di lapangan, Kemenkes bersama pemerintah daerah menyiagakan 1.691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, serta 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat. Selain itu, ratusan ribu masker, konsentrator oksigen, alat pelindung diri (APD), dan pasokan medis lainnya telah didistribusikan secara masif ke wilayah-wilayah terdampak.
Di Provinsi Riau, dampak kesehatan dilaporkan telah meluas ke 12 kabupaten/kota dengan total 3.293 kasus ISPA, di mana Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan sumbangan kasus terbanyak. Dinas Kesehatan setempat kini telah mengaktifkan Tim Medis Darurat (EMT) di ratusan Puskesmas dan membagikan puluhan ribu masker guna meminimalisasi dampak buruk kabut asap terhadap masyarakat.