DENPASAR — Siloam Hospitals Bali terus meningkatkan mutu pelayanan medisnya dengan meluncurkan teknologi terbaru di bidang elektrofisiologi jantung. Rumah sakit ini kini mengintegrasikan sistem pemetaan tiga dimensi (3D Mapping System) dengan metode Pulsed Field Ablation (PFA) untuk menangani pasien yang mengidap gangguan irama jantung atau aritmia secara lebih presisi.

Langkah inovatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Siloam Hospitals Bali dengan Tawada Healthcare sebagai penyedia teknologi medis. Implementasi teknologi pemetaan jantung tingkat lanjut ini perdana diterapkan pada Oktober 2025 lalu dalam sebuah prosedur klinis yang dipimpin oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. I Made Putra Swi Antara, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC.

Direktur Siloam Hospitals Bali, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, MM, menjelaskan bahwa kehadiran layanan canggih ini bertujuan mempermudah akses pengobatan bagi masyarakat lokal. Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat menekan angka pasien asal Bali dan wilayah Indonesia Timur yang harus bepergian jauh ke Surabaya, Jakarta, bahkan ke luar negeri demi mendapatkan penanganan aritmia.

Lebih lanjut, dr. Putri menegaskan bahwa peningkatan mutu layanan kesehatan tidak hanya bertumpu pada kesiapan peranti teknologi. Kesiapan kompetensi tenaga medis melalui pelatihan berkelanjutan, infrastruktur pendukung, hingga ketersediaan ruang ICU khusus pascatindakan juga menjadi fokus utama dalam ekosistem pelayanan terpadu ini.

Secara teknis, 3D Mapping System menyajikan pencitraan tiga dimensi dari anatomi jantung serta aktivitas kelistrikannya secara langsung (real-time). Teknologi pencitraan ini memperbarui metode dua dimensi (2D) terdahulu, sehingga memberikan navigasi kateter yang jauh lebih terarah bagi dokter spesialis saat memetakan area yang mengalami gangguan irama.

Terkait metode PFA, dr. I Made Putra Swi Antara memaparkan bahwa teknik ini memanfaatkan energi listrik non-termal berupa pulsa listrik tegangan tinggi dalam waktu sangat singkat untuk mengisolasi sinyal abnormal pada jaringan jantung. Meski menjadi opsi mutakhir terutama untuk kasus fibrilasi atrium, penerapan teknologi PFA tetap disesuaikan secara personal berdasarkan evaluasi klinis mendalam dari kondisi masing-masing pasien.