Dewan Sains dan Teknologi Nasional (NSTC) Taiwan resmi memaparkan rencana strategis jangka panjang bertajuk "Visi Teknologi 2035" pada Senin (6/7). Kebijakan ini menempatkan sains dan teknologi sebagai pilar utama pembangunan negara, dengan memanfaatkan dominasi industri semikonduktor Taiwan sebagai batu loncatan menuju penguasaan teknologi masa depan yang lebih kompleks.

Menteri NSTC, Wu Cheng-wen, menjelaskan bahwa inisiatif ini akan berfokus pada pengembangan ekosistem komputasi berkinerja tinggi, teknologi kuantum, robotika, serta pengembangan kedaulatan kecerdasan buatan (AI). Fokus utama dari agenda ini adalah memastikan hasil riset laboratorium tidak hanya berakhir sebagai data, namun menjadi solusi konkret yang mampu menjawab tantangan sosial serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara luas.

Di sektor pengembangan sumber daya manusia, Menteri Pendidikan Cheng Ying-yao menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan. Untuk mendukung visi ini, pemerintah akan memperluas program penarikan talenta global, menambah kuota beasiswa doktoral, serta menerapkan program "Universitas 30+". Langkah ini diambil untuk menciptakan iklim akademis yang kompetitif melalui peningkatan kesejahteraan dan fasilitas bagi para pendidik maupun peneliti muda.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Academia Sinica, Chen Chien-jen, menekankan pentingnya reformasi kelembagaan dan penguatan pendanaan riset. Kerja sama yang solid antara pemerintah dan dunia pendidikan diharapkan mampu menjadikan Taiwan sebagai pusat riset dasar yang dinamis, sehingga inovasi yang dihasilkan memiliki dampak signifikan dalam peta persaingan teknologi global di masa depan.